Kausalitas Buku

Setelah membaca argumen Tere Liye tentang harga buku—bagaimana penerbit menekan margin, bagaimana kertas impor tidak pernah murah, bagaimana penulis hanya diberi sepuluh persen demi supaya pembaca masih sanggup membeli—aku berhenti sebentar. Ada sesuatu yang menggelitik di kepala. Bukan sekadar soal harga buku, tetapi soal cara sebagian masyarakat kita memandang nilai. Dari sinilah keresahan itu muncul.

Karena protes terhadap harga buku yang sebenarnya sudah sangat murah membuatku merasa bahwa masalah kita bukan pada angka, tetapi pada pola pikir yang sudah diwariskan turun-temurun. Kita masih hidup dalam bayang-bayang budaya validitas. Dahulu, status ditentukan oleh darah bangsawan; kini status ditentukan oleh apa yang bisa dipamerkan. Dulu kita ingin terlihat “tinggi”; sekarang kita ingin terlihat “menarik”. Dan insting itu memengaruhi cara kita menilai segala hal—termasuk buku.

Fast food seharga dua ratus ribu mudah dipamerkan. Skincare beratus-ratus ribu mudah dipamerkan. Tiket konser satu juta mudah dipamerkan. Semua bisa ditaruh di feed, dan orang langsung mengerti. Tidak perlu pemahaman, tidak perlu proses, tidak perlu isi. Tapi buku? Itu lain cerita. Buku tidak bisa dipamerkan hanya dengan foto. Buku menuntut tanggung jawab intelektual. Buku menuntut proses. Buku menuntut kedalaman. Bahkan, buku menuntut kehati-hatian—karena kalau seseorang mengunggah buku yang tidak ia pahami, ia justru bisa mendapatkan sanksi sosial: terlihat sok pintar, padahal tidak benar-benar membaca.

Maka wajar bila bagi sebagian orang buku terasa “mahal”. Bukan karena uang mereka tidak cukup, tetapi karena biaya sosialnya terasa tinggi. Mereka harus memahami isi, harus menyelesaikan bacaan, harus siap ditanya, harus punya makna. Berbeda dengan konten instan yang bisa dipamerkan hanya dengan satu jepretan kamera.

Namun menurutku, justru di situlah nilai buku berada. Buku memberi kita empat keuntungan yang tidak diberikan oleh hal-hal instan itu.

Pertama, visualitas: bukan visual untuk dipamerkan kepada publik, tetapi visual yang memanifestasi dari dalam diri—ketika kita tamat membaca, mengerti arah pikirannya, dan mampu berbicara tentang gagasannya. Barulah buku itu layak diperlihatkan, bukan sebagai gimmick, tetapi sebagai jejak proses.

Kedua, akuntabilitas: buku memberi ilmu, memberi wawasan, memberi bahan bakar untuk berpikir. Hasilnya tidak kasat mata, tetapi terasa dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, atau memposisikan diri dalam hidup.

Ketiga, fungsionalitas: buku memiliki fungsi jangka panjang. Ia bisa diwariskan, dibaca ulang, menjadi referensi, menjadi inspirasi, menjadi kompas moral, menjadi peta hidup. Buku tidak habis dalam satu malam seperti konser, dan tidak membusuk dalam seminggu seperti makanan cepat saji.

Keempat, value: buku membentuk cara orang memandang kita. Bukan karena kita pamer foto buku, tetapi karena kita menginternalisasi isi buku itu. Seseorang yang membaca akan tampak berbeda—bukan karena gaya hidupnya, tetapi karena kualitas pikirannya. Dan nilai itu tidak bisa dibeli, hanya bisa dibentuk.

Karena itu, membeli buku bukan propaganda untuk memperbaiki citra diri di media sosial. Buku bukan alat kosmetik intelektual. Buku adalah proses. Buku adalah perjalanan. Buku adalah kerja batin yang tidak bisa dipercepat algoritma. Dan justru karena proses itulah, buku menjadi sangat berharga.

Maka bila seseorang merasa buku mahal, boleh jadi masalahnya bukan pada harga, tetapi pada ketakutannya sendiri terhadap proses panjang yang harus ia lalui. Kita semua, termasuk aku, pernah jatuh dalam godaan hal-hal instan. Tapi perlahan aku belajar bahwa hasil tanpa proses tidak pernah membuat kita menjadi siapa-siapa. Dan buku, justru sebaliknya, memaksa kita melalui proses, memaksa kita tumbuh, memaksa kita menjadi lebih manusia.

Pada akhirnya, buku tidak pernah mahal—yang mahal adalah kemauan untuk berubah. Karena bangsa tidak rusak oleh mahalnya ilmu, tetapi oleh murahnya keinginan untuk belajar. Jika kita terus memilih validitas instan daripada proses pemahaman, maka cepat atau lambat, kita sendiri yang bobrek. Individu bobrek, masyarakat bobrek, bangsa pun ikut bobrek. Dan semua dimulai dari satu hal sederhana: keberanian untuk membuka buku, membaca isinya, dan mengizinkan diri kita berkembang.



Postingan populer dari blog ini

Revolusi Cinta

Sesembahan

Album Manifesto