Album Manifesto
Sebuah definisi di mana untaian kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa menyusun tangga-tangga nada sehingga menjadi sebuah suara lontaran kata yang merdu, yakni Lagu. Keberadaannya tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia, karena kita tidak bisa terlepas dari nada dan kata yang menyatu menjadi melodi penuntun waktu. Bagi saya, mendengarkan musik bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah pencarian akan eksklusivitas rasa yang personal. Ada kepuasan tersendiri ketika menemukan sebuah identitas musikal yang terasa seperti rahasia pribadi, sebuah ruang yang hanya dihuni oleh saya kepada karya tersebut dan segelintir orang yabg betul betul paham. Namun, ketika sebuah band mulai merambah ke wilayah populer dan menjadi konsumsi massa, bagi saya nilai eksklusif itu perlahan memudar sehingga maknanya tak lagi terasa intim karena telah terbagi dengan terlalu banyak orang. Transisi saya ke musisi lain yang lebih tersegmentasi bukanlah bentuk penghakiman terhadap selera orang lain, melainkan cara saya menjaga jarak agar pengalaman estetis yang saya rasakan agar tidak menjadi komoditas yang umum. Meski begitu, tetap ada pengecualian bagi karya yang memiliki kedalaman luar biasa, di mana substansinya mampu melampaui kebisingan tren dan tetap terasa eksklusif di telinga saya, tak peduli seberapa sering lagu itu terdengar di lingkungan sekitar.
Dalam perjalanan saya mengapresiasi musik, saya sering kali berbenturan dengan kenyataan bahwa banyak musisi terjebak dalam ambisi mengejar kuantitas daripada menjaga konsistensi kualitas. Terkadang, sebuah album dengan belasan lagu di dalamnya terasa tidak efisien; hanya ada dua atau tiga lagu yang benar-benar digarap dengan rasa, sementara sisanya seolah hanya menjadi pelengkap teknis yang hambar dan memicu kejenuhan. Bagi saya, sebuah lagu yang sempurna bukan hanya soal ketepatan teknis, melainkan bagaimana rasa itu mampu ditangkap dan disampaikan secara presisi. Sering kali, kejujuran rasa itu justru terurai dan teracak di berbagai album yang berbeda, sehingga sulit menemukan satu kumpulan karya yang benar-benar utuh tanpa ada celah yang terlewatkan.
Namun, pencarian itu menemui titik temunya pada sebuah anomali yang langka: Album Manifesto. Sebuah album dari Jenny, sebuah band yang kini mungkin jarang terdengar atau telah berevolusi menjadi identitas baru, namun meninggalkan jejak yang absolut. Bagiku, album ini adalah sebuah kompilasi yang sempurna dari lagu pertama hingga kesepuluh. Tidak ada yang meleset, setiap treknya berdiri dengan kekuatan yang setara, meski hierarki menikmatinya tetap saya sesuaikan dengan kondisi keadaan saat itu. Di sinilah saya menemukan bahwa sebuah album bisa menjadi satu kesatuan organik yang utuh di mana teknis dan rasa tidak lagi berjarak, melainkan melebur dalam sebuah manifesto yang apa adanya
Klub Mati Muda, sebutan untuk fans Jenny yang tampak masih hafal dengan lirik-lirik di album Jenny pertama yang bertajuk "Manifesto", dan sekaligus album terakhir yang saya rasa adalah keputusan tepat untuk menyempurnakan kualitas dan mengakhiri kuantitas nya. Dirilis tahun 2009 lalu, terbukti mereka masih tak segan untuk sing-a-long di sepanjang lagu-lagu tersebut dimainkan. Jenny terbentuk tahun 2003, yang awalnya hanyalah sebuah band yang bertugas untuk mengisi malam keakraban di kampus ISI Jogja. Jenny di masanya sering pentas dari satu panggung kecil ke panggung kecil lainnya, dari satu kafe ke kafe lainnya, dari satu kampus ke kampus lainnya. Tentu Jenny yang dimaksud bukanlah Jenny von Westphalen, istri Karl Marx. Jenny menurut representasi Farid, digambarkan sebagai seorang wanita sundal yang meninggal ketika melahirkan anak perempuan kecil hasil hubungan terlarang, dan keempat personel Jenny harus membesarkan dan menjadi bapak tidak resmi dari anak tersebut. Pengertian yang absurd. Yang jelas, Jenny adalah cikal bakal FSTVLST. Sebuah jenama yang pada akhirnya membentuk genre 'almost rock barely art' - hampir rock nyaris seni. "track demi track di manifesto":
01. MATI MUDA
suara bulat dengung feedback gitar menjadi sebuah prolog pendek yang segera menghantarkan lagu ini kepada sebuah percakapan panjang antara melodisasi gitar robi, ruangan ruangan lebar buatan bass line arjuna, detak tenang drum line anis dan deklamasi lirik pendek farid. Masing-masing bagian menghibahkan ruh-nya kedalam track yang membahasakan sebuah tema sederhana tentang kematian dan semangat hidup. Track ini dibuat pada tahun 2006, pernah dirilis sebagai pengsisi soundtrack film berjudul radit dan jani. Matimuda piano version oleh lani frau, hingga berkumpulnya "klub matimuda" dan banyak cerita tentang lagu ini sampai sekarang masih penuh rasa senang dan terimakasih kami. Matimuda menjadi salah satu penanda zaman yang tetap mengharubirukan rasa hingga detik ini.
Bagi saya,"Hidup tak perlu terlalu lama, jika dosa yang berkuasa" ini adalah resonansi nyata dari sebuah pemikiran radikal, yang mendukung pandangan Soe Hok Gie:
"Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
"Tidak lahir, itulah yang terbaik; setelah lahir, mati muda adalah yang kedua terbaik; yang paling sial adalah hidup tua hingga menanggung beban waktu."
—Soo hoek gie, dikutip dari Plato, Phaedo 114c oleh Socrates, dalam tradisi filsafat Yunani Kuno
Ada semacam kebahagiaan tragis yang ditawarkan di sana, melalui liriknya, menjerit penuh derita Jenny mengembangkan kutipan tersebut menjadi sebuah bentuk lagu penuh perenungan yang menghentikan sejenak keduniaan kita sehingga Lagu ini mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar soal menjadi, tetapi bersiap untuk kembali.
2. MENANGISI AKHIR PEKAN
Di antara deretan materi dalam Manifesto, terdapat satu titik yang terasa paling manis, smooth, dan poptastic. Trek ini hadir dengan karakter yang sangat unisex ia bisa dimiliki oleh siapa saja yang merasa letih oleh rutinitas dunia. Part gitar, bas, dan drumnya digarap dengan begitu ringan dan licin, seolah menari di atas teks lirik yang memotret pahit manisnya sebuah pelarian. Bagi saya, lagu ini bukan sekadar musik latar, melainkan sebuah pengingat untuk menghargai setiap detik waktu luang yang kita miliki. Ia adalah sebuah bentuk pelepasan beban atas hari-hari manusia yang sering kali habis termakan oleh kesibukan yang mekanis. Liriknya menggugah hati untuk melakukan sesuatu yang kontradiktif namun melegakan: merayakan sekaligus menangisi akhir pekan. Sebuah ajakan untuk jujur pada rasa lelah kita sendiri. Saya menyebutnya sebagai anthem malam Sabtu; sebuah lagu yang paling pantas didengarkan sebelum kita berangkat tempur menuju gang gang kota. Dan juga tentang bagaimana pula bertahan di sela-sela prosesi kehidupan hampa ini
03. MANIFESTO POSTMODERNISME
Ada saatnya pencarian identitas dalam berkarya justru berujung pada kejengahan, demikian juga Jenny yang sempat bingung menentukan arah musik mereka, karena hanya berawal dari kejadian mendadak pada malan keakraban sehingga pada posisi tersebut keinginan untuk menciptakan sebuah diferensiasi yang mutlak sering kali membentur tembok opini dan penilaian dangkal yang melelahkan. Namun, di tengah kebingungan itulah, oleh jiwa anak muda personilnya yang liar prinsip-prinsip Postmodernisme (salah satu aliran filsafat) hadir sebagai pencerahan: sebuah kesadaran bahwa orisinalitas adalah nihil dan setiap narasi besar sebenarnya telah ditemukan. Kita hidup dalam ruang di mana kebaruan absolut tidak akan pernah datang lagi; setiap apa yang kita dengar, ucapkan, bahkan kita muntahkan, hanyalah remah dan sisa dari masa lalu yang didaur ulang oleh waktu.
Kesadaran akan "ketidakaslian" ini justru dieksekusi dengan sangat berani melalui unsur-unsur harafiah musik rock yang lugas. Drum line yang menderu rapat berpadu dengan bass line klasik yang jujur, ditambah melodi gitar yang melengking berkelok-kelok, menciptakan sebuah serangan audio yang sinkron dengan lirik-lirik penuh teriakan. Lagu ini adalah sebuah pernyataan sikap untuk menertawakan mereka yang terlalu arogan dengan idealisme kosongnya. Bagi saya, trek ini adalah jantung dari album tersebut sebuah pengakuan jujur bahwa meski kita hanya merangkai sisa-sisa, kita bisa melakukannya dengan intensitas yang melampaui mereka yang mengaku paling asli.
04. MAHA OKE
Saya merasa sedang diajak untuk berdoa dengan cara yang sama sekali berbeda. Jika secara tradisional doa sering kali didefinisikan sebagai aktivitas formal yakni mengadahkan tangan, mengucap syukur, atau melontarkan permohonan maaf dan diplomasi demi membujuk Tuhan, maka lagu ini menawarkan sebuah teknis spiritualitas baru yang revolusioner. Sebuah aktivitas mengagung-agungkan Tuhan dengan penggambaran Tuhan yang lebih hidup dan tak terbelenggu oleh zaman, melainkan terasa universal sehingga setiap orang, apa pun keyakinannya, tidak merasa terkucilkan. Sebaliknya, kita justru merasa bersatu dalam sebuah perenungan ketuhanan yang intim.
Lagu ini lahir dari sebuah "gosip" tentang siapa yang paling bertanggung jawab atas segala keindahan hidup yang dialami setiap hari. Sebuah pertanyaan yang ringan namun berat, apabila bukan Tuhan lah jawabnya, agar sok akrab dengan Tuhan mereka menyebutnya "Maha Oke". Ini adalah trek yang paling religius setelah "Mati Muda", sebuah lagu puji-pujian yang mampu mengubah perhelatan musik sesaat menjadi sebuah altar penyembahan yang jujur. Lewat lirik "pagi indah cerah yang engkau nanti dan sore redup tenang yang kau nikmati, sedikit dari banyak yang Maha Oke", saya menyadari bahwa keagungan-Nya hadir dalam hal-hal sederhana yang sering kita abaikan. Di sinilah "Maha Oke" menjadi jembatan yang menghantarkan kita pada doa yang tidak langsung, namun sangat mendalam.
05. MONSTER KARAOKE
Pantas didengarkan menjelang pulang dan senja sedang cantik-cantiknya dengan goresan cahaya jingga di cakrawala. Namun, senja di sini, latar suasana yang sempurna untuk membingkai perjalanan pulang kita. Setelah lelah dengan segala kegiatan, baik itu bekerja, sekolah, atau bahkan saat merasa kosong tanpa kegiatan sekalipun, lagu ini hadir sebagai teman di tengah kemacetan dan kerumunan orang yang menjadi latar belakang pemandangan kota. Inti dari lagu ini adalah sebuah ajakan untuk merayakan hari; entah itu hari yang sial, hari yang beruntung, atau apa pun itu, kita pantas merayakannya karena kita masih ingin bertahan menahan gejolak hidup
Tempo drumnya yang sedang, namun dibumbui dengan hook dan trik menabuh di tengah lagu, terasa sangat setimpal dengan not-not gitar dan bas yang saling meloncat ke sana kemari. Perayaan alter ego dan sisi sebenar-benarnya dari diri kita yang sering kali tersembunyi. Pemicu sisi liar itu memberontak keluar dari jasad, seperti sebuah pelepasan beban setelah seharian terkekang rutinitas. Lewat lirik "Soraki laju lagu, tangisi melodi, rayakan apa saja hari ini", saya merasa diajak untuk melepaskan diri sepenuhnya menjadikan perjalanan pulang sebagai panggung karaoke pribadi sepanjang jalan. Ini adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap penat, sebuah cara untuk tetap merasa hidup di bawah naungan malam dan esok hari lagi yang segera tiba.
06. 120
Bagi saya pribadi, "120" adalah sebuah anomali yang sangat kritis. Sejak awal, judulnya saja sudah melempar teka-teki, seolah menjadi kode pembuka untuk membedah ego manusia yang sering kali terlalu tinggi untuk digapai namun terlalu rapuh untuk dipertahankan. Yang membuat saya jatuh hati adalah keberaniannya mengangkat isu ego, sesuatu yang sangat jarang disentuh dengan cara sekiller ini. Alih-alih menggurui dengan bahasa yang harafiah, lagu ini bermain dengan perumpamaan-perumpamaan brilian yang terasa sangat "maju" untuk zamannya. Ia tidak hanya merespons kegelisahan, tapi juga menawarkan pemecahan yang tidak lazim.
Ada nilai eksklusivitas yang kental di sini. Mengingat lagu ini adalah satu-satunya trek yang "dipingit" dan tidak pernah dibawakan di panggung manapun sebelum malam peluncuran albumnya, "120" menjadi semacam persembahan sakral. Ia adalah gong yang menandai kelahiran Manifesto. Lewat liriknya yang berbunyi, "tentang status dan posisi tawarmu di penglihatan orang-orang, jangan harap itu bisa mengesankanku dan menjatuhkanku", saya merasa sedang dipersenjatai dengan sebuah sikap: bahwa di hadapan penilaian orang lain, kita harus tetap berdiri tegak, tak tergoyahkan oleh ego yang fana.
07. DANCE SONG
Pada awalnya saya sempat menganggap "Dance Song" sebagai trek yang remeh dibandingkan lagu-lagu lain di album Manifesto. Judulnya hanya perumpamaan menggerakkan tubuh, oleh gagasan filosofis tentang orang-orang yang tiba-tiba berdansa di tengah situasi apa pun, baik dalam tekanan hebat maupun kebahagiaan yang meluap. Selaras dengan pesan moralnya, Ia adalah seruan untuk menjadi pemberani: "Stop thinking too much, now start your steps". Keberanian sejati terletak pada niat yang baik untuk mulai melangkah dan tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai, karena hasil akhir hanyalah soal takdir, namun hak untuk merayakannya melalui dansa hanya milik mereka yang berani mencoba.
Secara historis, trek ini adalah pusaka paling klasik milik Jenny, sebuah fondasi yang diletakkan sejak tahun 2004 di lingkungan FSR ISI Yogyakarta. Menarik, membayangkan bagaimana lagu ini dulunya diselipkan dengan malu-malu di antara nomor-nomor cover dari band ramones, jimi hendrix, the datsuns, roling stones, kings of leon, libertines, strokes, white stripes. Meski lahir sebagai materi pertama yang mewakili konsep awal mereka, "Dance Song" terus mengalami koreksi dan evolusi tanpa henti. Di telinga saya, ini ada bentuk nyata dari keberanian itu sendiri begitu kasar dan liar, sebuah ajakan untuk berhenti berpikir terlalu banyak dan mulai melangkah
08. LOOK WITH WHO I’M TALKING TO
Lagu ini tidak berusaha tampil rumit dengan metafora yang berat; tujuannya hanya satu, yaitu berkomunikasi. Ia menyentuh hal paling mendasar dari eksistensi manusia: kebutuhan untuk saling bicara. Yang paling unik dari trek ini adalah bagaimana ia meruntuhkan sekat antara penyanyi dan penonton. Tidak ada lagi jarak antara panggung dan lantai dansa; yang ada hanyalah respons dan reaksi timbal balik yang organik.
Secara teknis, lagu ini adalah sebuah permainan komunikasi yang cerdas. Ketika vokalis melontarkan kata "Fire" dengan meledak-ledak, penonton seolah menyahutnya dengan kata "Water" untuk meredam api tersebut. Ini adalah sebuah percakapan dua arah yang sangat hidup. Kesederhanaan temanya justru menjadi realitas yang mengejutkan, karena sering kali kita lupa bahwa esensi dari sebuah pertunjukan musik adalah momen "berbicara" secara harafiah kepada sesama manusia.
Di telinga saya, lagu ini dihiasi dengan tabuhan drum Anis yang sederhana namun tetap tricky, sementara bas dan gitar saling muncul lalu bersembunyi, berbagi porsi dengan vokal secara adil. Sehingga yang tersisa hanyalah keinginan murni untuk berbagi kebahagiaan. Lewat lirik "All I wanna, all I’m gonna, is talking to you", sebuah keinginan yang dibutuhkan untuk melebur bersama
09. THE ONLY WAY
Track tunggal berdiri sendirian di tengah album Manifesto, di saat lagu-lagu lain membedah eksistensialisme atau kritik sosial, trek ini masuk ke wilayah yang sangat personal: patah hati. Namun, ini bukan sekadar lagu galau yang melankolis atau berlebihan. Jenny berhasil membungkus kesedihan ini menjadi sesuatu yang "berkelas". Secara konsep, jenius sebab tidak hanya melempar masalah, tapi juga menjabarkan latar belakang permasalahan, dengan puitis sehingga akhirnya memberikan solusi yang jelas. Jarang sekali ada lagu galau yang solutif. Bagi saya pribadi, lagu ini sangat relevan dengan kondisi hati terkini, Dibuka dengan nyanyian tanpa iringan musik (a cappella), suara serak basah sang vokalis seolah langsung mencengkeram emosi pendengar tanpa ada basa-basi. Transisinya menuju energi garage—yang saya rasakan sangat terpengaruh oleh gelombang band asal New York dan Inggris awal 2000-an—memberikan tenaga yang luar biasa pada narasi patah hatinya. Lewat lirik "Parallel life, I’ll see you soon", lirik yang romantis dan penuh magis seputar solusi cara melupakan dia
10. RESISTANCE IS FUTILE
Kedalaman makna yang sangat manusiawi, sebuah pembelajaran besar tentang penerimaan. Ia menanamkan sebuah kesadaran bahwa sebesar apa pun usaha yang kita kerahkan, pada akhirnya kita harus berlapang dada dan pasrah menerima apa pun yang telah digariskan oleh takdir. Menariknya, judul lagu ini diambil dari sekuel film Star Trek yang berarti "perlawanan adalah sia-sia". Meski judulnya terdengar dingin, isinya justru terasa sangat sentimental. Saya menangkap adanya aroma kekecewaan dan broken trust dalam liriknya—sebuah protes terhadap hal-hal yang terjadi di luar kendali dan keinginan kita. Namun, di balik rasa kecewa itu, lagu ini mengajarkan kita untuk melepaskan beban dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana adanya.
Secara teknis dan energi, saya sangat mengerti mengapa trek ini sering dijadikan lagu pembuka di atas panggung. Sepanjang tiga setengah menit, tempo dan semangatnya memiliki daya ledak yang luar biasa untuk memanaskan adrenalin. Lewat penggalan lirik "Sometimes, some things, can changed, can really changed", saya diingatkan bahwa perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti, dan kemampuan kita untuk menerima perubahan itulah yang membuat kita tetap bertahan. Lagu ini menjadi titik tutup yang sempurna bagi Manifesto, sebuah kesimpulan bahwa setelah segala perlawanan dan pencarian, penerimaan adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian.
KESIMPULAN YANG DITUTUPI
Album Manifesto adalah sebuah album yang luar biasa kompleks. Ia adalah ruang di mana seluruh kebutuhan serat hidup manusia terpenuhi dalam satu album, mulai dari urusan ketuhanan, kritik sosial, perenungan eksistensial, hingga kegalauan personal. Jenny tidak hadir dengan kemewahan yang signifikan, melainkan dengan membersamai semangat anak muda selamanya. Setiap treknya adalah eksperimen murni yang membedah bentuk-bentuk kehidupan, menjadikannya sebuah titik awal revolusioner sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk bertransformasi menjadi FSTVLST—sebuah keputusan yang saya anggap sangat jenius dan tepat. Album ini adalah potret sempurna dari gairah muda yang liar, ambisius, dan menggebu-gebu. Meski terasa "amatir" dalam artian kejujuran sebuah proses, justru di situlah letak kekuatannya yang tidak bisa dibohongi. Ia menangkap kegelisahan anak muda yang sedang mencari identitas, yang berani mengeksplorasi tanpa takut. Keputusan mereka untuk berhenti dan berevolusi adalah pendewasaan, meski bagi kita sebagai penggemar, ada rasa kehilangan yang tersisa.
Sebagai penikmat yang setia, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang-orang di balik Jenny yang telah sudi "membrontak" dan merawat kegilaan ini. Walaupun secara fisik band ini telah tutup usia, namun jiwa dari 10 trek ini tetap hidup dan bernapas dalam keseharian kami. Lagu-lagu kalian telah menjadi latar belakang bagi kami untuk belajar, memaknai, dan merenung. Terima kasih telah menemani proses evolusi kami menjadi manusia yang lebih baik. Jenny mungkin sudah terkubur dalam sejarah, tapi ia abadi dalam setiap detak kehidupan kami yang merayakannya. MAKA RAYAKAN APA SAJA HARI untuk semua nya.