Yang Jatuh Suka
Aku tak pernah benar-benar paham, kenapa beberapa rasa datang tanpa peringatan. la tak mengetuk pintu, tak memberi aba-aba. Tahu-tahu hadir, menetap, dan membuat segalanya jadi berbeda. Bukan cinta, aku belum tahu sejauh itu. Tapi ada sesuatu yang tumbuh, perlahan, dari cara mataku diam-diam mencari siluetmu di antara keramaian. Dari cara pikiranku mengulang-ulang detik-detik biasa yang menjadi luar biasa hanya karena kamu ada di dalamnya.
Di hadapanmu, aku tidak punya banyak kuasa atas diriku sendiri. Kata-kata yang biasanya bisa kususun dengan mudah, mendadak hilang. Daya yang biasanya kupakai untuk menjaga jarak, luruh begitu saja. Bahkan mataku pun tak tahu harus ke mana saat tanpa sengaja bertemu dengan tatapanmu. Ada sesuatu yang membuatku diam, membeku sejenak, seperti sedang menatap sesuatu yang tak seharusnya terlalu lama kulihat. Tapi tetap saja, aku menatap.
Aku pernah berpikir bahwa menyukai seseorang itu selalu disertai harapan. Tapi untukmu, entah kenapa... tidak. Aku tidak menuntut apa-apa. Tidak ingin mengubah arah hidupmu agar menuju padaku. Tidak ingin menjadi pusat duniamu. Aku hanya ingin jujur bahwa kamu dengan cara yang sangat biasa berhasil menggetarkan bagian diriku yang sudah lama sepi. Tanpa trik. Tanpa paksaan. Hanya dengan menjadi dirimu sendiri.
Aku tidak tahu apakah ini wajar. Mungkin bagi sebagian orang, ini cuma perasaan remeh yang akan hilang dalam beberapa minggu. Tapi buatku, ini semacam ruang teduh. Tempat di mana aku bisa bemaung, meski kamu bahkan tak sadar sedang menaungi. Kamu tak mengundangku ke sana. Tapi aku diam-diam berdiri di ambang pintumu, hanya untuk mendengar napasmu lewat jarak.
Aku tidak jatuh cinta. Aku jatuh suka. Jatuh pada cara kamu tertawa tanpa dibuat-buat. Pada caramu memperhatikan sekitar tanpa merasa harus menguasai apa pun. Pada gestur kecilmu yang tidak pernah berniat memikat siapa-siapa, tapi justru membuatku terpikat. Dan aku tahu, ini semua bukan salahmu. Kamu punya magis yang tak bisa dijelaskan. Bukan karena kamu mencoba memesona, tapi karena kamu memang begitu. Aku tak bisa menyalahkanmu, seperti aku tak bisa menyalahkan matahari yang terbit setiap pagi. la hanya menjadi dirinya sendiri-dan dunia tetap jatuh cinta padanya.
Kadang aku membayangkan, jika suatu saat kamu tanpa sengaja melihatku, hanya sekilas saja.... apakah kamu akan menyadari sesuatu? Mungkin tidak. Tapi di kepalaku, aku membayangkannya. Aku bayangkan kamu menatapku, lalu mengangguk kecil. Dan entah kenapa, dalam imajinasi itu, aku merasa cukup.
Bayangkan bila kau ajakku bicara rasanya seperti mimpi yang tak perlu tertalu panjang. Sekalimat pun cukup. Karena aku bukan sedang mengejar romansa. Aku hanya ingin tahu, bahwa aku pernah benar-benar ada di sekitarmu, walau hanya sebentar
Kamu tahu? Bila kau berkenan, biarkanku di sampingmu. Bukan sebagai seseorang yang spesial, bukan juga sebagai pemeran utama dalam kisahmu. Aku hanya ingin menjadi satu jiwa yang tak lagi sepi. Satu nama yang tak terlalu penting, tapi cukup ada untuk mengisi sedikit ruang dalam harimu. Tapi kalau pun tidak, aku akan tetap di sini. Diam. Menyukai dengan caraku sendiri. Menjaga rasa ini seperti rahasia kecil yang hanya aku dan semesta yang tahu. Aku tidak ingin rasa ini mengganggumu. Justru aku ingin rasa ini menjadi doa yang tenang, mengalir ke arahmu dengan tulus.
Terima kasih, karena pernah membuatku jatuh suka. Dan maafkan... karena aku tak bisa memilih untuk tidak menyukai.