Telanjang

Lihatlah dunia hari ini—keluarlah, hirup udaranya, pandang sekelilingmu. Segalanya seperti berlari, saling mendahului, sementara mereka yang tertinggal hanya menjadi bayang-bayang yang semakin mengecil. Kita hidup di zaman ketika manusia terlalu cepat menghakimi, tapi begitu lambat memahami. Zaman ketika visual naik pangkat menjadi semacam agama baru: tubuh dipuja, moral dipinggirkan, dan pandangan mata seringkali lebih tajam daripada mata hati.

Namun di balik gemuruh itu, ada pertanyaan sederhana sekaligus menohok: mengapa sesuatu yang begitu alami bisa menjadi begitu tabu?

Dalam ajaran agama, larangan melihat aurat bukan lahir dari anggapan bahwa tubuh itu najis. Tubuh tidak pernah kotor—yang kotor adalah niat yang menguasai pandangan. Larangan itu adalah lembutnya kasih Tuhan agar manusia tidak tenggelam dalam liar­nya hasrat. Sebab pandangan adalah pintu keinginan, dan keinginan yang dibiarkan bebas bisa meruntuhkan martabat. Karena itu moral diturunkan bukan sebagai belenggu, melainkan penunjuk arah; moral adalah pagar, bukan penjara.

Kita sebagai lelaki memang diciptakan dengan kecenderungan visual: mudah terpancing oleh daya tarik perempuan. Itu fitrah. Namun pada titik itulah letak ujian moral berdiri—apakah kita tunduk pada naluri, atau justru memimpin naluri dengan kesadaran?

Tubuh perempuan, termasuk yang sering dianggap tabu seperti payudara, tidak jorok pada dirinya. Yang membuatnya jorok adalah pikiran yang menafsir dengan cara yang salah. Sujiwo Tejo pernah berkata bahwa bahasa yang dianggap kotor sejatinya hanyalah hasil kesepakatan sosial yang telah tercemar. Sebuah kata tidak membawa dosa; yang berdosa adalah niat yang menyelubunginya. Maka bukan tubuh yang keliru, melainkan lensa jiwa kita yang buram.

Sejak kecil kita diajarkan untuk menabukan banyak hal. Ironisnya, ketertutupan itulah yang sering menumbuhkan penasaran; dan dari penasaran yang tak terarah, lahir penyimpangan. Andai sejak awal kita diajarkan bahwa tubuh adalah ciptaan Tuhan yang natural, mungkin kita tumbuh dengan pandangan yang lebih jernih—bukan mata birahi, melainkan mata kesadaran.

Namun kenyataan di dunia berjalan lain. Banyak perempuan terlahir dengan bentuk tubuh yang tidak mereka pilih. Dan di zaman media sosial, tubuh mereka kerap dijadikan komoditas—oleh diri sendiri, oleh sistem, atau oleh pandangan orang lain. Tetapi menuduh perempuan karena bentuk tubuhnya adalah seperti menyalahkan langit karena mendung. Yang bersalah bukanlah yang terlihat, tetapi yang menafsir.

> “Sebagaimana pun tertutupnya pakaian wanita, pria tetap bisa menelanjangi di dalam pikirannya.”

Kalimat ini seharusnya menjadi cermin besar yang menggantung di ruang batin kita. Sebab pikiran lebih liar daripada mata; pakaian bisa menutupi tubuh, tapi tidak dapat menutupi imajinasi yang tidak terkendali. Maka lelaki sejati bukanlah mereka yang hanya menundukkan mata karena takut dosa, tetapi mereka yang sanggup menundukkan pikirannya karena sadar diri. Pengendalian diri adalah kehormatan.

Soal kecantikan—benar, cantik itu relatif. Tapi di dunia yang serba visual, first impression selalu berlari lebih dulu daripada hati. Beauty privilege itu nyata; dunia memperlakukan mereka yang cantik dengan tangan yang lebih lembut. Namun keadilan moral tidak menuntut kita menolak kenyataan itu. Keadilan menuntut kita memperlakukan yang tidak cantik dengan hormat yang sama. Sebab setiap wajah membawa cerita yang tidak kita ketahui.

Pada akhirnya, semuanya kembali ke satu pusat: kendali diri. Lelaki sejati bukan yang menilai tubuh perempuan dengan birahi, melainkan yang melindungi perempuan dari pikiran buruk miliknya sendiri. Sebab yang paling sulit ditundukkan bukanlah nafsu orang lain, tetapi nafsu diri sendiri.

> “Jika kamu seorang lelaki — bukan binatang — kuasailah pikiranmu. Ambil alih dirimu sepenuhnya agar dirimu tidak dikendalikan oleh nafsu.”

Di tengah riuh dunia, moral adalah cahaya kecil. Tetapi justru cahaya kecil itulah yang menjaga manusia tetap menjadi manusia.



Postingan populer dari blog ini

Revolusi Cinta

Sesembahan

Album Manifesto