Revolusi Budaya

Membaca Pelantikan Sabrang sebagai Peristiwa, Bukan Sensasi


Pada tanggal 15 Januari 2026 Pelantikan Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal publik sebagai Noe Letto sebagai tenaga ahli di Dewan Pertahanan Nasional segera memantik kegaduhan. Bukan karena jabatan itu sendiri, melainkan karena nama yang menempel padanya, dan lebih jauh lagi, karena bayang-bayang ayahnya: Emha Ainun Nadjib, figur kebudayaan yang selama puluhan tahun diposisikan publik sebagai suara kritis di luar kekuasaan. Dari sini, wacana cepat melompat ke tuduhan-tuduhan besar: pembungkaman, kooptasi, penjinakan dan bahkan kematian pers secara simbolik. Di titik ini, yang bekerja bukan lagi nalar dan kebijakan, melainkan refleks kecurigaan kolektif yang dibentuk oleh sejarah panjang kekuasaan yang sering mengkhianati kepercayaan. Padahal, sebelum kita sampai pada kesimpulan semacam itu, ada lapisan-lapisan penting yang seharusnya dibaca dengan lebih netral dan jernih

Masalah pertama yang muncul adalah kecenderungan publik untuk mereduksi peristiwa ini menjadi relasi ayah–anak. Seolah-olah Noe tidak pernah benar-benar berdiri sebagai individu, dan seolah-olah setiap keputusan yang ia ambil otomatis menjadi perpanjangan tangan Cak Nun. Cara baca semacam ini justru menafikan secara gamblang. Padahal, Noe bukan figur kosong yang tiba-tiba dilempar ke ruang negara. Ia adalah individu dewasa dengan rekam jejak intelektual, kultural, dan teknologis yang jelas: latar pendidikan matematika dan fisika, ketertarikan serius pada teknologi dan sistem, keterlibatan dalam forum-forum pemikiran berbasis IT dan AI, serta pengalaman panjang dalam ruang budaya yang tidak berhenti pada panggung musik. Menyamakan keduanya secara total justru mengulang pola feodalisme lama dalam versi terbalik: dulu anak naik karena ayah, kini ayah “jatuh” karena anak. Sehingga menyederhanakan semuanya menjadi “anak Cak Nun” adalah bentuk kemalasan berpikir. 

Kekhawatiran tentang pembungkaman juga perlu ditempatkan secara proporsional. Indonesia memang punya sejarah panjang represi, tetapi pembungkaman tidak selalu bekerja secara kasar dan kasatmata. Di sisi lain, tidak setiap keterlibatan dengan negara otomatis berarti tunduk atau jinak. Di sini penting membedakan antara kewaspadaan dan paranoia. Kewaspadaan bekerja dengan data, waktu, dan pengamatan atas tindakan nyata. Paranoia bekerja dengan asumsi buruk yang diputuskan sebelum sesuatu benar-benar bergerak. Dalam kasus Noe, kritik yang terlalu dini bahkan sebelum ada satu pun keputusan atau pernyataan substantif darinya lebih menyerupai ketakutan kolektif yang diwariskan oleh pengalaman masa lalu, bukan analisis atas situasi kini.

Hal yang sering luput adalah pemahaman sempit tentang apa itu pertahanan negara. Banyak orang masih membayangkannya sebatas senjata, tentara, dan konflik bersenjata. Padahal, dunia telah lama bergeser. Pertahanan hari ini mencakup stabilitas ekonomi, ketahanan budaya, kedaulatan teknologi, perang informasi, dan cara berpikir masyarakat. Negara bisa runtuh tanpa satu peluru pun ditembakkan, cukup dengan manipulasi data, algoritma, dan narasi. Dalam konteks ini, justru orang-orang dengan kemampuan lintas disiplin yang mampu membaca pola, sistem, dan dinamika kultural—menjadi relevan. Menempatkan Noe semata sebagai “musisi” adalah kesalahan kategorikal. Musik dalam hidupnya lebih tepat disebut medium ekspresi, bukan batas kompetensi.

Penting juga dicatat bahwa posisi tenaga ahli bukanlah jabatan politik dalam arti eksekutif atau legislatif. Ia tidak membuat undang-undang, tidak menentukan arah kekuasaan, dan tidak memegang kendali anggaran. Ia berada di wilayah pemikiran dan rekomendasi, bukan di pusat keputusan. Menyamakan tenaga ahli dengan politisi adalah kekeliruan yang sering terjadi karena publik kita cenderung menganggap “masuk negara” identik dengan “menjadi rezim”. Menyamakan setiap keterlibatan dengan negara sebagai keberpihakan total pada rezim adalah bentuk simplifikasi berbahaya. Banyak orang bekerja di dalam negara bukan karena sepakat, tetapi karena ingin memahami, mengoreksi, atau setidaknya memastikan negara tidak sepenuhnya dikelola oleh mereka yang rakus dan tumpul secara moral. Padahal beberapa orang bekerja di dalam negara justru dengan sikap kritis, atau setidaknya dengan jarak etis tertentu.

Kekecewaan yang muncul seperti yang kalian dan saya akui secara jujur sebenarnya wajar. Kekecewaan adalah tanda bahwa ada harapan moral yang dipertaruhkan. Namun kekecewaan tidak harus berujung pada penolakan total. Ada ruang di antara mendukung secara buta dan menolak secara emosional. Ruang itu adalah ruang menunggu, mengamati, dan menguji. Memberi kesempatan bukan berarti menanggalkan kritik. Sebaliknya, kritik yang kuat justru membutuhkan waktu agar berdiri di atas fakta, bukan prasangka.

Hubungan Noe dengan Cak Nun juga tidak bisa dibaca secara naif. Tentu ada dialog, pertimbangan, dan restu. Tetapi restu bukan berarti kendali penuh, dan kedekatan bukan berarti kesamaan posisi politik. Dalam banyak kasus, justru relasi ayah–anak adalah ruang perdebatan paling keras dan paling jujur. Menganggap Cak Nun “dibungkam” hanya karena anaknya menerima jabatan adalah klaim besar yang membutuhkan bukti besar pula, bukan sekadar kecurigaan dan argumeb kosong belaka. Cak Nun bukan wali politik yang harus menanggung setiap langkah anaknya, dan Sabrang bukan perpanjangan tangan ideologis ayahnya. 

Pada akhirnya, pertanyaan penting bukanlah siapa ayahnya, melainkan apa yang akan ia lakukan. Apakah ia akan larut dalam lumpur politik kotor, atau justru menjaga jarak kritis dari dalam? Apakah ia akan blunder, atau memberi kontribusi nyata? Itu semua belum terjadi. Maka satu-satunya sikap yang masuk akal hari ini adalah: memberi ruang sambil mengawasi. Negeri ini terlalu sering kehilangan orang-orang pintar karena dua hal: disingkirkan oleh sistem, atau dibakar oleh prasangka publik. Jika hari ini negara untuk sekali ini memberi ruang kepada orang dengan kapasitas lintas disiplin, mungkin yang perlu kita lakukan bukan langsung menuding, tetapi memastikan ruang itu tidak berubah menjadi kandang.

Akhirnya, yang paling masuk akal adalah menempatkan peristiwa ini sebagai proses, bukan hasil akhir. Noe belum bergerak, belum mengambil sikap publik yang menentukan, belum menunjukkan apakah perannya akan memberi dampak positif atau justru sebaliknya. Maka sikap yang paling bertanggung jawab adalah sikap yang di tawarkan: mendukung sebagai bentuk harapan, waspada sebagai bentuk tanggung jawab, dan siap mengkritik ketika data dan tindakan sudah tersedia. Tidak memuja, tidak mencela. Tidak menutup mata, tidak menutup akal.

Dalam iklim politik yang kerap kotor dan penuh kepentingan, pilihan untuk masuk, melihat dari dalam, lalu keluar jika perlu, bukanlah pilihan yang sederhana. Ia adalah pilihan yang penuh risiko, baik secara moral maupun personal. Justru karena itulah, keputusan semacam ini layak dibaca dengan kepala dingin, bukan dengan teriakan. Selebihnya, waktu yang akan menguji: apakah jabatan ini menjadi alat, atau justru menjadi ruang. Dan pada titik itu, kritik kita akan menemukan momentumnya sendiri. 

Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih atas seluruh komentar yang muncul, baik yang mendukung maupun yang menentang. Saya menghargai pandangan-pandangan yang jujur dan berbobot, juga pandangan yang lahir dari kegelisahan, meskipun kadang disampaikan dengan cara yang tergesa atau belum sepenuhnya matang (sederhana nya orang orang sok benar yang masih dangkal dan dungu itu). Indonesia memang beragam dalam pikiran, dalam sikap, dan dalam tingkat kedewasaan berpikir. Kita hidup di negara yang sedang tumbuh, dan dalam proses itu, wajar jika suara yang muncul juga campur aduk: ada yang Nyaris dan Miris. Saya memilih untuk menghargai semuanya sebagai bagian dari dinamika itu. Kritik tetap penting, kewaspadaan tetap perlu, tetapi kebakuan berpikir tidak kalah pentingnya. Harapannya sederhana: semoga kita semua, pelan-pelan, belajar membaca persoalan yang kompleks dengan kepala yang lebih dingin dan pikiran yang lebih terbuka dan tidak bersombong diri dengan pandangan masing-masing sehingga seringkali butuh pengakuan benar. Jika ada kekeliruan dalam cara tafsir ku hari ini, semoga itu bukan akhir, melainkan awal dari kesadaran yang lebih baik ke depan.

Postingan populer dari blog ini

Revolusi Cinta

Sesembahan

Album Manifesto