Takut Berharap
Bagaimana bisa kita takut berharap pada harapan?
Ketakutan itu lahir bukan karena harapan bersifat rapuh, melainkan karena harapan diam-diam berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar kemungkinan, tetapi naik pangkat menjadi ukuran: ukuran benar–salah, pantas–tidak pantas, berhasil–gagal. Di situlah paradoksnya mulai bekerja.
Seseorang bisa takut pada harapan yang ia ciptakan sendiri karena harapan itu tidak berhenti sebagai bayangan masa depan. Ia menyusup ke cara kita menilai kenyataan. Ketika harapan masih berada di depan—belum terjadi apa-apa—ia terasa aman. Ia hidup di wilayah “mungkin”. Tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Tapi begitu harapan itu selesai, begitu dunia menjawab dengan “tidak”, harapan itu menuntut pengakuan. Ia menagih: mengapa tidak terjadi? Di titik ini, harapan tidak lagi menghadap masa depan, tetapi berbalik mengadili masa lalu.
Yang ditakuti bukan kegagalannya, melainkan makna yang lahir setelah kegagalan itu diresmikan. Karena kegagalan tersebut merusak narasi yang sudah terlanjur kita anggap wajar: bahwa dunia semestinya mengikuti arah keinginan kita. Harapan yang semula kita buat sebagai kemungkinan, tanpa sadar kita perlakukan sebagai kepastian yang tertunda. Maka ketika ia tidak terjadi, yang runtuh bukan hanya rencana, tetapi rasa bahwa hidup masih masuk akal.
Ketakutan itu semakin tajam karena harapan jarang berdiri sendirian. Ia lahir dari keinginan, dan keinginan memiliki sifat keras kepala: ingin dipenuhi, ingin dibenarkan. Selama keinginan ini masih hidup, harapan tidak pernah benar-benar selesai. Ia diseret ke hari-hari berikutnya sebagai standar diam-diam. Akibatnya, peristiwa yang sudah terjadi dianggap “tidak sah”. Bukan sekadar menyakitkan, tetapi keliru. Di sini, ketakutan tidak lagi berkaitan dengan apa yang akan terjadi, melainkan dengan apa yang sudah terjadi namun tidak kita izinkan menjadi bagian dari hidup.
Maka wajar jika seseorang takut pada harapan yang ia harapkan sendiri. Karena harapan itu, ketika gagal, memaksa kita berhadapan dengan keterbatasan kehendak. Ia memaksa ego untuk duduk dan mengakui bahwa tidak semua keinginan layak menjadi hukum realitas. Dan pengakuan semacam ini berat. Ia terasa seperti kalah, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah berhenti memaksa dunia.
Harapan menjadi menakutkan ketika ia berubah menjadi tuntutan. Sebaliknya, ia menjadi lapang ketika dilepaskan dari keharusan. Di titik itulah muncul bentuk harapan yang lain: bukan harapan yang meminta dunia menyesuaikan diri, melainkan harapan yang sanggup hidup bersama apa pun yang terjadi. Harapan semacam ini tidak menjanjikan kemenangan, tetapi menghentikan perang. Dan barangkali, ketenangan bukan soal mendapatkan apa yang diharapkan, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa dunia tidak berutang apa pun pada harapan kita.