Tersisa kelam
Aku tidak tahu kapan malam ini dimulai. Jam di dinding berhenti bekerja sejak lama, atau mungkin aku yang berhenti mempercayainya. Ruangan ini tidak memiliki nama dan aku mengerti mengapa. Sesuatu yang lahir dari ingatan tidak pernah mau dipanggil.
Dindingnya tidak keras. Ia lembap seperti pikiran yang terlalu lama tersimpan. Dari sela-selanya keluar suara-suara yang tidak pernah kuminta: jerit anak kecil, doa yang salah alamat, kalimat-kalimat yang dulu kuanggap benar lalu tiba-tiba terasa memalukan. Aku tidak menutup telinga. Menutup telinga hanya membuat suara itu pindah ke dada.
Aku duduk dan menunggu diriku sendiri. Bukan diriku yang dulu, bukan pula yang kuharapkan. Aku menunggu yang sanggup berkata: ya, itu pernah terjadi, dan aku masih di sini.
Kadang aku berpikir hidup tidak pernah memberi kita pilihan, hanya tanggung jawab. Kita dipaksa menjawab atas hal-hal yang bahkan tidak kita inginkan. Dari sanalah aku terbaca bukan sebagai berita miring konstitusi tetapi sebagai seorang pengamat yang mengungkap kontitusi sambil didekap teror rindu para aparat
Ia sedang duduk di seberangku. Aku tidak mendengar langkahnya masuk. Ia selalu muncul seperti kesimpulan yang terlambat. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti air yang sudah lama tidak bergelombang. Ketika ia berbicara, aku merasa sedang ditelanjangi, Ia tidak bertanya untuk mengerti. Ia bertanya untuk melihat sejauh mana aku berani jujur.
Ia berkata luka adalah bacaan yang menarik. Aku membencinya karena itu terdengar masuk akal.
Aku ingin membantah, tapi setiap kata yang kususun runtuh sebelum keluar. Aku menyadari sesuatu yang membuat tenggorokanku kering: kebengisan tidak selalu lahir dari kebencian. Kadang ia lahir dari pikiran yang terlalu rapi, terlalu yakin, terlalu bebas dari rasa bersalah.
Aku meninggalkan ruangan itu dengan satu kesadaran yang tidak menyenangkan: suara-suara itu tidak akan pergi. Aku hanya bisa belajar berjalan tanpa berlari dari mereka.
Di tempat lain—atau mungkin masih di dalam diriku—aku menggali. Bukan tanah, melainkan keyakinan. Setiap lapisan yang terbuka membuatku semakin ragu apakah yang kucari benar-benar ingin ditemukan.
Aku pernah percaya. Lalu sesuatu terjadi, terlalu besar untuk dimaafkan, terlalu bengal untuk diberi makna. Sejak itu, Tuhan menjadi kata yang sulit kusebut tanpa syarat. Aku ingin kepastian dan kubur bukan lagi akhir bagiku. Ia menjadi pertanyaan paling mempertanyakan
Namun di sana, sempit kian menghanguskan lirihku. Aku kehilangan sesuatu yang lebih halus dari iman: kesombongan hatiku sendiri. Tidak ada rumus, tidak ada jawaban yang bisa diikuti begitu saja. Aku keluar bukan sebagai orang yang yakin, juga bukan sebagai menolak. Aku keluar sebagai seseorang yang tahu: ada batas yang hanya bisa disentuh dengan sujud dan mengajarkanku bahwa beberapa hal hanya bisa dirasakan saat aku rela hancur untuk mengerti
Lalu ada cahaya yang menghitam.
Aku berdiri di bawah matahari yang berubah warna, dan tubuhku terasa bukan sepenuhnya milikku. Sejak awal, dunia sudah memutuskan apa aku ini. Aku hanya diminta memainkannya dengan baik. Menjadi simbol. Menjadi alat. Menjadi cerita yang mudah dicerna.
Aku bertarung bukan karena ingin menang. Aku bertarung karena aku ingin tetap bisa menyebut diriku manusia ketika semuanya selesai. Setiap pukulan meninggalkan noda. Setiap keputusan meninggalkan bekas. Hingga merasa selesai, baik dan bahkan suci akan menjerat dalam dusta yang sesungguhnya
Kadang aku bertanya, apakah kebaikan tanpa keburukan hanya kebohongan yang didongengkan
Semua ini tidak pernah bertemu. Tidak ada pertemuan dramatis. Tidak ada simpul yang rapi. Hanya tawa yang duka dan Cahaya yang kehilangan kesuciannya.
Aku mulai mengerti sesuatu yang sederhana dan kejam: manusia tidak hancur karena niatnya buruk, tetapi karena ia menolak melihat dirinya sendiri dengan jujur. Kita ingin menjadi sesuatu yang lain zirah baru, iman yang sempurna, takdir yang bersih dan dalam keinginan itulah kekerasan tumbuh diam-diam, tanpa mau tau
Aku tidak keluar dari lubang sebagai pemenang. Aku keluar membawa sesuatu yang tersisa.
Kelam itu tidak pergi. Ia tinggal. Bukan untuk menenggelamkanku, tetapi untuk mengingatkanku bahwa hidup bukan tentang menyembuhkan semua luka. Hidup adalah keberanian berjalan sambil membawanya—tanpa menjadikannya alasan untuk melukai yang lain.
Dan malam ini, yang tidak pernah benar-benar malam, aku akhirnya berhenti menunggu jawaban. Aku belajar duduk bersama pertanyaan.