Surat Menjawab
Surat untuk Menjawab Kekhawatiranmu
Surat ini kutulis untuk menjawab beberapa hal yang mungkin sedang berputar di kepalamu. Jika kamu sudah tiba di halaman ini, berarti kamu memang ingin tahu—entah karena peduli, penasaran, atau apa pun motif yang hanya kamu sendiri yang tahu. Yang jelas, kamu sudah cukup jauh melangkah memahami siapa aku. Maka, biarkan aku menjawab dengan seterang yang bisa aku lakukan.
Mungkin kamu penasaran, apakah hatiku sedang kosong? Dan dari dua surat sebelumnya, kamu mungkin menebak-nebak beberapa hal. Ya, benar—mereka berdua pernah hadir dalam hidupku. Sekarang, mungkin hanya tinggal jejak kenangannya dan aku selalu mendoakan mereka baik, karena dulu hatiku memang memilih mereka. Hanya saja, kenyataan tidak berpihak, dan aku harus menerima itu.
Jadi, untuk saat ini hatiku masih kosong. Bukan karena tidak ada yang bisa mengisi, tapi lebih karena aku belum ingin. Bukan berarti kamu suatu saat tidak punya tempat—tapi aku sedang berdamai dengan ketidakpastian. Jika kamu benar-benar ingin hadir, maka bersungguh-sungguhlah. Jika tidak, setidaknya kamu tahu apa adanya diriku. Jujur, aku sudah cukup lelah dengan drama-drama hati, jadi aku ingin semuanya jelas
Karena itu, kamu tidak perlu khawatir tentang masa laluku. Dua nama itu adalah perjalanan yang tak bisa kuhapus, tapi sesuatu yang bisa tergantikan, dan yang selama ini kau baca memang bagian dari diriku, tapi bukan keseluruhannya. Jika kamu bersungguh-sungguh, mungkin aku bisa kembali menanam harapan. Mungkin, suatu hari nanti, aku bisa menyebut rinduku padamu—di hadapan siapa pun, tanpa ragu. Hal-hal yang dulu tak sempat kulakukan untuk dua nama itu, semoga bisa terwujud bersamamu.
Dan untuk semua itu, yang aku butuhkan sederhana: komunikasi. Kita berbicara, bukan menebak. Kita jujur, bukan saling menyembunyikan. Jika ada hal yang mengganjal, kita sisihkan waktu untuk membahasnya. Jika ada hal yang membuat cemas, kita luruskan bersama. Aku tidak menuntut kesempurnaan—aku hanya ingin kita sama-sama tahu ke mana atah komitmen ini. Aku ingin hubungan yang tumbuh dari dua orang yang sama-sama siap belajar. Yang tidak hanya menuntut dimengerti, tetapi juga ingin memahami. Yang tidak hanya meminta kepastian, tetapi juga memberikan keyakinan. Jika kamu siap menerima diriku dengan segala sisa-sisa perjalanan yang kubawa, aku pun akan membuka diri untuk menerima dirimu dengan segala cerita yang belum sempat kamu bagi.
Dan mungkin, pada akhirnya, semuanya akan sederhana: Jika kamu sungguh ingin berjalan bersamaku, maka mari kita yakinkan satu sama lain. Aku tidak akan memaksamu, dan kamu tidak perlu memaksaku. Jika kamu mau, maka ayo. Kita mulai perlahan. Kita saling jaga. Kita saling percaya. Kita saling meyakinkan bahwa pilihan ini bukan sekadar kemungkinan—tetapi sesuatu yang layak dicoba. Terima kasih.