Mistism
Aku selalu merasa bahwa setiap kali aku menonton sebuah film horor—seperti Jeritan Malam yang baru saja kembali kutonton untuk keempat kalinya—aku tidak sedang mencari rasa takut. Aku sedang mencari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kegelapan yang muncul dari layar. Aku ingin memahami bagaimana manusia, termasuk aku, memperlakukan hal-hal yang tidak kasatmata. Film itu selalu memberiku ruang untuk mengurai ulang cara pikirku tentang hantu, gaib, kepercayaan, dan bagaimana modernitas mengubah cara kita membaca dunia. Dan jika harus jujur, perjalanan renunganku kali ini jauh lebih liar daripada filmnya sendiri, karena saat aku menontonnya, aku tidak hanya menonton cerita; aku menonton diriku sendiri.
Ketika aku menyaksikan bagaimana tokoh-tokohnya memperlakukan dunia gaib sebagai ancaman, aku justru melihat sesuatu yang lain: betapa manusia modern sering kali mengecilkan hal-hal yang mereka tidak pahami. Dari mengecilkan, mereka beralih pada meremehkan, dan dari meremehkan, mereka lalu berubah menjadi makhluk yang sombong. Sombong bukan karena merasa lebih kuat, tapi karena merasa lebih “modern”, lebih “rasional”, lebih “global”. Padahal, akar kesombongan itu sederhana: ketidakmauan untuk memahami. Mereka merasa pengetahuan yang mereka peroleh dari sekolah, internet, atau budaya modern sudah cukup untuk membaca realitas. Seakan-akan ilmu pengetahuan kontemporer adalah pusat dari segala kebenaran. Padahal, bukankah globalisasi hanya memindahkan pusat kebudayaan dari lokal ke asing? Mereka menelan habis ideologi modern tanpa memetakan ulang konteksnya. Dan di sinilah manusia mulai menjadi kecil dalam kesombongan yang besar: mereka lupa bahwa dunia ini tidak hanya berdiri di atas apa yang dapat kita sentuh atau ukur.
Karena itu, aku cenderung menganggap mistisme Jawa sebagai salah satu bentuk “ilmu alam”—bukan dalam arti ilmiah modern, tetapi dalam arti bahwa ia mempelajari gejala alamiah dari keberadaan manusia. Mistisme Jawa tidak pernah memisahkan alam dari diri manusia. Semuanya menyatu dalam satu alur pengalaman. Ketika para leluhur berbicara tentang angin yang membawa pesan, atau suara-suara malam yang meresap ke hati, mereka tidak sedang mempraktikkan tahayul; mereka sedang membaca alam seperti membaca kitab. Bagi mereka, alam adalah teks yang harus dipecahkan dengan ketenangan, bukan dengan mesin. Maka, ketika modernitas datang membawa wacana baru yang lebih instan, manusia perlahan kehilangan kemampuan membaca alam. Mereka tidak lagi belajar memahami gejala; mereka hanya belajar untuk mengukur dan menguasai. Itu sebabnya mistisme Jawa dianggap kuno, irasional, bahkan menakutkan—padahal itu hanyalah bentuk lain dari pengetahuan.
Termasuk ketika kita membicarakan indra keenam. Dalam benak banyak orang modern, istilah ini langsung dikaitkan dengan sesuatu yang mistis, gelap, dan meresahkan. Padahal jika aku melihat pada pemahaman para leluhur, indra keenam bukanlah kekuatan supranatural; ia hanyalah kemampuan batin untuk menangkap detail yang tidak diperhatikan indera lainnya. Semacam intuisi yang terlatih, semacam kepekaan yang tumbuh dari keheningan. Bukan seperti di film-film, bukan seperti kemampuan melampaui batas manusia. Ia hanya bentuk kedewasaan jiwa. Tetapi karena modernitas mengajarkan bahwa semua hal harus visual, fisik, dan terukur, maka apapun yang terkait batin dianggap tidak valid. Mereka lupa bahwa peradaban ini berdiri dari intuisi-intuisi kecil yang dimiliki manusia sejak awal. Tanpa indra keenam—tanpa kepekaan batin—kita hanya menjadi makhluk yang memandang, tanpa sungguh-sungguh melihat.
Salah satu bentuk pematangan batin itu adalah suluk. Aku selalu menganggap suluk sebagai jalan panjang yang ditempuh manusia untuk memahami dirinya sendiri. Tetapi sayangnya, di era modern yang instan, suluk dianggap tidak efisien. Orang-orang lebih memilih ritual-ritual terburu-buru, doa-doa setengah matang, atau praktik-praktik mistisme yang mereka tidak pahami. Mereka ingin hasil cepat. Mereka lupa bahwa leluhur kita tidak pernah mengajarkan sesuatu yang instan. Bahkan berjalan pun diajarkan dengan sabar. Dalam suluk, manusia diajak untuk melihat ke dalam, menemukan ruang-ruang kecil dalam jiwa yang selama ini ditutup oleh ego. Dan dari sana lahirlah sebuah bentuk kebijaksanaan: memahami bahwa hidup bukan tentang menang atau kuat, melainkan tentang cukup, tentang kecukupan jiwa. Namun, di dunia yang begitu riuh oleh tuntutan, kecukupan tidak lagi menjadi tujuan; kesempurnaan lah yang menjadi pusat. Akibatnya, manusia kehilangan makna. Mereka berlomba mengejar standar yang diciptakan oleh dunia yang tidak pernah puas.
Padahal, salah satu hal paling penting dalam hidup adalah menghormati kepercayaan orang lain. Bukan berarti kita harus mempercayai apa yang mereka percayai, tetapi kita bertanggung jawab untuk tidak meremehkannya. Karena kepercayaan adalah cara seseorang memahami dunia. Dan ketika kita meremehkan kepercayaan seseorang, kita tidak hanya meremehkan keyakinannya; kita meremehkan perjalanan hidupnya. Kita meremehkan luka-lukanya, harapannya, kegagalannya, dan kebangkitannya. Mungkin inilah mengapa aku selalu merasa bahwa manusia modern terlalu cepat menilai. Mereka merasa lebih valid hanya karena hidup di zaman yang lebih canggih. Padahal kecanggihan tidak selalu membentuk manusia. Justru tanpa kerendahan hati, kecanggihan hanya menghasilkan generasi yang pintar dalam data tetapi miskin dalam makna.
Tetapi pada akhirnya, semua kembali pada satu hal: kecukupan. Aku selalu melihat bahwa inti dari seluruh ajaran leluhur adalah kecukupan. Bahwa manusia harus tahu kapan berhenti, kapan menurunkan ego, kapan menyadari bahwa hidup bukan perlombaan. Dan dalam konteks modern, kecukupan adalah kemewahan yang hilang. Kita dicekoki ideologi bahwa nilai manusia ditentukan oleh pencapaian, bukan kedalaman. Bahwa yang sederhana dianggap kurang, dan yang berlebihan dianggap normal. Maka dari itu, manusia mulai kehilangan akar. Mereka hidup melayang-layang tanpa pijakan. Mereka menolak yang tradisional, menertawakan yang spiritual, dan meremehkan yang tidak dapat dijelaskan. Padahal, justru dari sanalah identitas kita berasal: dari hal-hal yang tidak dapat dijelaskan.
Karena itu, ketika aku berbicara tentang mantra, aku tidak sedang membicarakan jampi-jampi murahan yang sering kita tonton di film horor. Aku sedang berbicara tentang sebuah bahasa yang diwariskan oleh leluhur. Sebuah medium komunikasi. Sebuah cara mereka memadatkan pengalaman batin dalam rangkaian kata. Dan itu tidak bisa disamakan dengan hal buruk semata. Mantra bagi leluhur bukan alat untuk menakut-nakuti, tetapi alat untuk menenangkan, untuk memusatkan batin, untuk menghadirkan kesadaran. Namun karena generasi kita malas mempelajari bahasa leluhur, malas mengurai semiotika mereka, malas mendalami struktur makna budaya, akhirnya mereka mengambil jalan pintas: menyebut semuanya sebagai “hal yang gaib.” Selesai. Padahal penyederhanaan itu menghapus ratusan tahun sejarah dan pengetahuan. Kita mereduksi apa yang rumit menjadi satu kata dangkal: gaib. Kita memiskinkan makna, dan pada akhirnya memiskinkan diri sendiri.
Lalu bagaimana dengan hal-hal gaib itu sendiri? Bagaimana dengan hantu, dengan dunia tak kasatmata yang selalu menjadi bahan film horor? Aku harus mengakui bahwa pada akhirnya aku melihat hantu bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai representasi dari sesuatu yang belum selesai. Bukan makhluk yang ingin mengganggu, tetapi makhluk yang menanggung dendam atau amarah yang menggantung. Mereka bukan perusak eksistensi manusia; mereka hanya bentuk lain dari luka. Justru manusia lah yang sering merusak eksistensinya sendiri dengan rasa takut yang dibangun oleh pikiran mereka. Karena jika kita jujur, hantu tidak bisa merusak eksistensi kita. Mereka tidak memiliki kuasa sebesar itu. Yang memiliki kuasa untuk menghancurkan hidup kita hanyalah kita sendiri, melalui keputusan-keputusan buruk yang kita ambil. Melalui amarah, iri, sombong, dan kebodohan yang kita pelihara dan semua itu terbungkus dalam ketakutan kita sendiri sebab tak mampu nya kita berpijak pada nalar kita atas beberapa kejadian yang sebenarnya belum mampu kita terjemahkan
Namun, ada satu hal menarik: kesempatan kedua. Ini konsep yang sering luput dari pembahasan tentang hal gaib. Tetapi bagiku, kesempatan kedua adalah ruang tempat manusia bisa memperbaiki kesalahan. Dalam konteks film, dalam konteks hidup, dalam konteks kepercayaan. Kesempatan kedua tidak selalu hadir dalam bentuk yang indah. Kadang ia hadir sebagai gangguan, mimpi buruk, atau peringatan. Tetapi jika kita melihatnya lebih jauh, semua itu hanyalah cara hidup memberi kita tanda bahwa kita belum selesai. Bahwa ada sesuatu yang harus diluruskan. Dan manusia yang memahami kesempatan kedua tidak akan mencari jalan pintas, tidak akan mengambil ritual instan, tidak akan menggunakan kekuatan gaib untuk melawan sesuatu. Mereka akan memilih jalan yang lebih lambat tetapi lebih benar.
Tetapi aku tahu, hidup tidak selalu adil. Hidup sering kali ganjil. Sering kali timpang. Sering kali tidak memberi kesempatan yang sama kepada setiap orang. Ada yang hidupnya mulus, ada yang hidupnya penuh retakan. Dan dalam ketidakadilan itulah banyak orang mencari jalan pintas. Mereka ingin menetralkan ketimpangan hidup dengan sesuatu yang instan—dengan hal-hal gaib, dengan ritual cepat, dengan kekuatan yang tidak dipahami. Padahal, itu justru menjerumuskan mereka ke dalam ironi baru: ketika niat baik dilakukan dengan cara buruk. Di sinilah muncul konsep anti-hero dalam kehidupan nyata. Orang yang berniat baik, yang ingin menumpas kejahatan, tetapi memakai cara yang jahat. Ia bukan pahlawan, bukan pula penjahat. Ia di antara keduanya. Tetapi itu bukan tempat yang nyaman. Karena ketika kita menggunakan cara yang buruk untuk tujuan baik, kita tidak menjadi baik atau jahat; kita hanya menjadi bimbang. Dan kebimbangan adalah ruang paling rapuh dalam diri manusia.
Dan pada akhirnya, inilah konklusiku: hal gaib adalah jalan pintas. Tetapi tidak semua jalan pintas adalah benar. Ada hal gaib yang dipahami sebagai proses batin, seperti intuisi, suluk, atau kesadaran spiritual. Ada pula hal gaib yang instan dan menyesatkan—yang diciptakan oleh ketakutan, ketidaktahuan, dan kesombongan manusia modern. Jika kita tidak dapat membedakan keduanya, kita akan tersesat. Dan yang paling berbahaya adalah ketika manusia mengkhianati Tuhan dengan mencari jalan pintas—bukan karena ingin mendekat, tetapi karena ingin melampaui hukum alam. Padahal Tuhan itu gaib, tetapi gaib yang penuh proses. Gaib yang mengajarkan sabar. Bukan gaib instan yang menakutkan seperti dalam film horor.
Maka dari itu, aku menyadari satu hal: generasi kita kehilangan kemampuan memahami komunikasi leluhur. Kita tidak membaca bahasa mereka. Kita tidak lagi mengurai simbol-simbol mereka. Kita mengambil kesimpulan prematur dan menamakannya sebagai “kebenaran.” Ini bukan karena kita bodoh, tetapi karena kita tidak memiliki waktu dan tidak diberi ruang oleh modernitas untuk belajar perlahan. Dan akhirnya kita memilih bahasa instan: “gaib.” Selesai. Padahal, jika kita mau sedikit lebih sabar, kita akan menemukan bahwa setiap ritual, setiap mantra, setiap tradisi, memiliki konteks, tujuan, dan nilai-nilai yang jauh lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan.
Jika aku harus merangkum semuanya, aku hanya ingin mengatakan satu hal kepada siapa pun yang membaca ini: jangan pernah meremehkan apa yang tidak kamu mengerti. Dunia ini lebih rumit daripada film, lebih luas daripada ilmu sekolah, dan lebih halus daripada logika. Dan aku, setelah empat kali menonton Jeritan Malam, akhirnya mengerti bahwa horor bukanlah tentang hantu; horor adalah tentang manusia yang tidak selesai dengan dirinya sendiri. Dan mungkin, hanya mungkin, dunia ini akan menjadi lebih tenang jika manusia berhenti meremehkan, berhenti menyederhanakan, dan mulai belajar untuk mengerti—meski sedikit demi sedikit.