Surat Untukmu #2
Hana
Sebenarnya sejak pertama kali menatap matamu, aku tahu Tuhan sedang menunjukkan sebuah karya yang tidak bisa kutandingi dengan kata. Sorot matamu tegas—seolah kau bisa berdiri sendiri menghadapi dunia. Mungkin itu hanya hipotesaku, mungkin juga benar, tapi aku tak pernah meminta validasinya. Diam-diam mencintaimu sudah cukup membuatku merasa hidup. Mengintip wajah anggunmu saja sudah seperti doa yang jatuh pelan.
Namun seharusnya ini tak perlu bermula. Janji-janji kecil yang awalnya hanya bercanda, yang tidak sengaja terucap, ternyata mengubah banyak hal. Aku terlalu percaya teori-teori sampah tentang cinta yang katanya sederhana—padahal hidup ini jauh lebih kontras dari apa pun yang ditulis dalam buku.
Aku tahu sejak awal semua ini seperti berjudi: bisa jadi baik, bisa jadi buruk, bahkan bisa lebih buruk dari buruk itu sendiri. Seperti hukum aksi-reaksi dalam kimia—aku terlalu cepat melakukan aksi, padahal aku belum mengenalmu dengan benar. Reaksinya sudah pasti negatif. Dan sebagai anak sosiologi, aku sadar: tidak semua hal berjalan sesuai hukum yang kita kira berlaku. Subjeknya berbeda, logikanya berbeda. Maka tidak semua perasaan harus dinyatakan. Ada yang lebih baik dibiarkan menetap dalam diam.
Hana, aku menerima dirimu apa adanya. Termasuk caramu menolak tanpa berkata apa-apa. Termasuk caramu menjawab dengan tidak memberi jawaban. Aku tidak pernah berniat memaksamu, apalagi memaksakan sesuatu yang tidak lahir dari hatimu sendiri. Jika diammu membuatmu lebih baik, maka aku akan menerimanya dengan cara yang paling tenang yang bisa kulakukan.
Ya, mungkin semua ini tak seharusnya terjadi di akhir-akhir seperti ini. Tapi kau harus tahu: posisiku saat itu terjabak dan ganjil. Aku hanya manusia yang mencoba melakukan sesuatu sebelum waktu habis. Setidaknya ada pelajaran yang bisa kita ambil—kita berdua.
Hana, kau hanya terdiam, termenung, tak berkata apa pun.
Dan aku, Ezra, bisa apa?
Jika kau tidak menginginkanku, tidak menginginkan cintaku, maka aku tak punya hak apa pun untuk memaksakan diriku masuk ke hidupmu. Aku hanya bisa diam dan menerima. Karena cinta bukan paksaan—cinta adalah ruang yang harus kau buka sendiri.
Seandainya kau memintaku untuk mengusahakan cinta ini, aku akan memberikan semuanya: apa yang aku bisa, apa yang aku mampu, apa yang aku punya. Tapi kau tidak memintanya. Maka aku mengerti.
Hana: kau tidak perlu berbuat apa-apa Ezra. Tidak perlu melakukan hal-hal besar atas nama cinta. Tidak perlu membalas apa pun. Cukup diam, lalu pergilah. Pergilah tanpa aku.
©2025