Menyembah #3
BAB III: MENUHANKAN TUHAN
Aku berjalan menuju kota itu dengan kaki yang masih mengingat tanah kampung tadi tanah yang menolak, tanah yang menerima, tanah yang membingungkan. Angin subuh mengusap tengkukku, seperti mencoba menghapus luka yang bahkan tidak bisa kulupakan sekalipun. Di
depanku, kota itu mulai menggeliat: suara klakson, asap knalpot, gedung yang seolah menggigit langit. Aku pikir kota lebih beradab. Lebih waras. Lebih manusia. Tapi mungkin, seperti diriku sendiri, kota hanya makhluk lain yang belajar menutupi kebusukan dengan lampu-lampu terang.
Aku tiba ketika matahari mulai merangkak naik. Orang-orang bergegas seperti dikejar bayangan nya sendiri. Aku berdiri di trotoar yang retak-retak, membawa tubuh yang masih basah oleh masa lalu. Aku kira perjalananku ke kota ini akan menjadi awal sesuatu yang baru. Tapi ternyata, kota hanya mempercepat kejatuhan halus yang sudah lama mengikutiku.
Di sebuah mushola kecil pinggir pasar, aku mencoba sholat subuh, setelah perjalanan panjang melelahkan. Aku hanya mencoba sesuatu yang lebih sederhana: tunduk. Tidak pada ajaran mana pun. Tidak pada doktrin tertentu. Hanya pada kemungkinan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kebisingan hidup. Aku tidak tahu caranya. Tidak tahu apa yang benar. Aku hanya ikut gerak tubuh yang kubayangkan sebagai bentuk kepasrahan.
Saat salam terakhir, seorang lelaki bersorban putih dan berkacamata tebal mendekat. Dari cara bahunya terangkat dan cara ia menatapku dari atas ke bawah, aku tahu ia adalah orang yang merasa lebih dulu memiliki Tuhan sebelum orang lain sempat mengetuk pintunya.
“Kok sholatmu beda?” katanya. Nada suaranya seperti pintu kayu tua yang digesek kasar. “Madhzab mana itu?”
Aku tersenyum sekilas. “Madhzab perjalanan,” jawabku pelan.
Ia mengernyit, seolah kata-kataku adalah penghinaan. “Sesat begitu namanya. Sholat kok asal. Belajar dulu yang benar.”
Aku ingin menjawab bahwa aku sedang belajar—justru karena aku tidak tahu apa-apa. Tapi apa gunanya berdebat dengan orang yang sudah memilih rumahnya sendiri dan mengunci pintunya? Aku hanya mengangguk dan keluar dari mushola itu. Di belakangku, beberapa jamaah berbisik tentangku, seolah aku makhluk aneh yang tidak pantas menyentuh sejadah.
Aku menelan semua itu. Pahit. Tapi aku sudah terbiasa rasa pahit seperti itu.
Kota itu ternyata lebih liar dari penjara.
Di penjara, setidaknya kau tahu siapa musuhmu. Kau tahu siapa yang berniat menusukmu, siapa yang ingin memerasmu, siapa yang sedang menunggu lengahmu untuk mengambil jatah makanmu. Dunia di sana terstruktur dalam kekacauannya.
Di kota?
Kekacauannya justru tersusun rapi, seperti etalase toko yang menyembunyikan gudang berdebu di belakangnya.
Aku mencoba mencari pekerjaan. Berkali-kali. Tapi begitu mereka membaca berkas kelam masa laluku meski aku sudah terbebas dengan sah dari jerat hukum—sikap mereka berubah. Wajah yang tadi ramah menjadi canggung. Suara yang tadi santun menjadi ketus. Kalimat-kalimat yang dilontarkan selalu dibungkus sopan, tapi isinya racun merah yang menetes halus.
“Maaf, kami membutuhkan orang yang… bersih.”
“Kami sedang penuh.”
“Kami akan hubungi jika ada kabar.”
Tidak ada kabar.
Tidak akan ada.
Di salah satu sudut kota, aku bertemu seorang mantan narapidana lain. Namanya Tegar. Tubuhnya kekar tapi matanya kosong, seperti ia masih memandang jeruji meski tidak ada lagi besi di sekelilingnya.
“Mereka tidak mau terima kita, Zra,” katanya sambil merokok. “Masyarakat cuma suka cerita taubat. Tapi tidak suka orang yang benar-benar bertaubat.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam dadaku. Tepat Jujur Tanpa basa-basi.
“Kita ini selalu dianggap kotor. Mau sebersih apa pun kita mencoba,” lanjutnya.
Kami duduk di pinggir jalan, melihat lampu-lampu toko yang mati satu per satu. Aku merasakan sebuah kekosongan besar. Seolah dunia ini tidak menyediakan tempat bagi orang seperti kami. Seolah Tuhan pun bingung harus menempatkan kami di mana.
Tegar menghembuskan asap. “Lucu ya. Orang-orang berdoa minta dijauhkan dari kejahatan. Tapi mereka sendiri menjauh dari orang yang sedang mencoba menjauh dari kejahatan.”
Aku mengangguk. “Paradoks.”
“Itu bukan paradoks, Zra,” katanya sambil menggeleng. “Itu alasan. Alasan agar mereka tetap merasa suci.”
Aku tidak menyangkal. Kota ini membuatku semakin mengerti bahwa kebaikan sering ditentukan oleh siapa yang memegang mimbar, bukan oleh siapa yang benar-benar menderita mencari cahaya.
Suatu sore, aku bertemu sosok yang tidak kusangka akan muncul lagi: Ustadz dari desa itu. Ia sedang mengisi kajian di sebuah gedung kecil yang dikelilingi spanduk dakwah. Aku berdiri cukup jauh, tidak ingin mendekat. Tapi entah bagaimana, ia melihatku dan menghentikan ceramahnya sejenak.
“Engkau,” katanya, suaranya menggema melalui mikrofon. “Ke sini.” Aku kaku. Orang-orang memandangku, sebagian dengan penilaian prematur yang menusuk seperti pisau. Aku melangkah mendekat. Ia menatapku lama, seperti sedang menimbang dosa yang bahkan sudah kutinggalkan.
“Engkau masih mencari Tuhan?” tanyanya.
“Aku tidak tahu,” jawabku jujur.
Ia tersenyum tipis—senyum yang tidak bisa kubaca apakah itu belas kasihan atau ejekan. “Tuhan tidak dicari-cari. Tuhan itu ditemukan dalam ketaatan.”
Kata “ketaatan” menusukku.
Aku sudah pernah taat—kepada kekacauanku, kepada ketidaktahuanku, kepada kegelapan yang memanjakan. Aku takut taat lagi pada sesuatu hanya karena aku butuh merasa aman.
“Aku belum siap,” jawabku.
“Kalau begitu engkau akan tersesat,” katanya sambil kembali ke mimbar.
Tersesat.
Aku tidak merasa tersesat. Aku hanya merasa belum sampai. Tapi di kota ini dan mungkin juga di desa itu, tidak ada tempat bagi orang yang belum sampai. Yang ada hanya dua pilihan: tunduk, atau disingkirkan. Dan aku tahu, aku belum siap untuk keduanya.
la melanjutkan ceramahnya seolah aku tak pernah ada. Mikrofon kembali menangkap ayat-ayat yang dihafal dengan lancar, suara jamaah mengangguk serempak, dan aku perlahan mundur ke belakang. Tidak ada yang menghalangiku pergi. Tidak ada yang menahanku. Dan justru di situlah aku merasa paling jelas: aku tidak diusir, tapi tidak diundang.
Di luar gedung, senja menggantung rendah. Kota ini tidak menyembunyikan apa pun-pengemis di trotoar, pedagang kaki lima yang ditertibkan paksa, wajah-wajah lelah yang berjalan cepat seolah waktu bisa menelan mereka kapan saja. Tidak ada kepura-puraan ketenangan seperti di desa. Di sini, kemiskinan dan iman berjalan berdampingan tanpa saling menyapa.
Aku duduk di pinggir jalan, menyalakan rokok murah yang kubeli dari warung kecil. Asapnya pahit, tapi jujur. Tidak seperti senyum di mimbar.
Aku teringat perkataan Ustadz itu: Tuhan ditemukan dalam ketaatan.
Aneh. Kalimat itu terdengar rapi, tapi kosong.
Seolah ketaatan adalah pintu satu-satunya, dan siapa pun yang belum sanggup taat, pantas disebut tersesat. Tidak ada ruang untuk ragu. Tidak ada ruang untuk bertanya. Padahal aku datang bukan untuk membantah-aku datang membawa luka yang ingin dipahami.
Malam itu aku pulang ke kamar sempit yang kusewa harian. Di sana aku mencoba salat lagi, lebih pelan, lebih hati-hati. Aku menghadap ke arah yang menurutku benar, mengikuti gerakan yang kuingat, membaca apa yang kuingat. Tapi tetap saja ada rasa seperti orang asing yang salah masuk rumah orang. Aku berhenti di tengah-tengah, duduk, dan menatap lantai. Bukan karena marah. Lebih karena lelah.
Keesokan harinya aku mulai bekerja. Pekerjaan kasar, upah harian, serabutan. Di tempat itu, latar belakang penjara bukan aib, hanya informasi. Di sela istirahat, aku berbincang dengan Tegar, la tertawa saat aku bercerita tentang desa dan kota.
"Di sini jahatnya terang," katanya. "Kalau busuk, ya busuk. Gak pakai doa."
Kalimat itu tinggal lama di kepalaku.
Sore berikutnya, aku kembali melihat Ustadz itu-kali ini tanpa mimbar, tanpa mikrofon. la berjalan di antara jamaahnya, dikelilingi orang-orang yang menunduk hormat. Tatapannya singgah padaku sesaat, lalu berlalu. Tidak ada teguran. Tidak ada ajakan. Hanya jarak yang sengaja dijaga.
Dan saat itulah aku mengerti:
di desa, ia tampak suci karena gelapnya disembunyikan.
di kota, ia tetap sama-hanya lebih lihai.
Aku berjalan pulang dengan langkah berat, tapi kepalaku terasa lebih terang. Kota ini memang lebih kejam. Tapi setidaknya, aku tahu di mana aku berdiri. Tidak ada janji keselamatan yang digantungkan, tidak ada ketaatan yang dipaksakan sebagai syarat diterima. Di sini, aku bisa memelih untuk ragu tanpa harus berpura-pura yakin, walau memamg ustadz itu...!
Keesokan harinya Tegar dituduh mencuri padahal ia tidak melakukannya. Warga mengeroyoknya, memukulinya sampai darahnya menetes di jalan. Aku datang terlambat, tapi cukup cepat melihat bagaimana masyarakat memukul “atas nama menjaga keamanan,” sementara pemuka agama di dekat situ hanya berkata:
“Begitulah akibat hidup tanpa iman.”
Kalimat itu membuatku murka.Bukan karena agama. Tapi karena kesombongan.
Setelah masa puas, aku berusaha menarik tubuh Tegar, membawanya kabur. Di bawah lampu jalan yang remang, sambil memegangi tubuh Tegar yang penuh lebam, aku merasakan sesuatu yang tak pernah diajarkan siapa pun padaku. Bukan tentang surga. Bukan tentang neraka. Bukan tentang benar atau salah.
Tapi tentang melihat manusia sebagai manusia.
Tanpa label.
Tanpa dosa yang diseret-seret.
Tanpa pahala yang dipamer-pamerkan.
Saat itu, aku berkata dalam hati:
“Kalau Tuhan ada, mungkin Ia tidak sesempit orang-orang yang mengaku membawa nama-Nya.”
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak lagi ingin memahami Tuhan melalui mulut orang lain. Atau melalui buku yang tidak sanggup kuterjemahkan tanpa bias. Atau melalui stigma yang membenturku setiap kali aku mencoba memperbaiki diri.
Aku ingin mencari-Nya langsung, atau tidak menemukan-Nya sama sekali. Aku ingin berjalan.
Bukan menuju satu tempat, tetapi ke mana-mana.
Menjadi musafir yang tidak tahu rumahnya di mana. Membiarkan diriku dituntun oleh apa pun yang terasa benar, meski aku belum mengerti bahasa-Nya.
Aku pamit kepada Tegar. Ia masih memar, tapi sadar. “Ke mana kau akan pergi?” tanyanya.
Aku tersenyum. “Ke mana pun kaki ini mau membawaku.”
“Untuk apa?”
Aku menjawab pelan, seperti membisikkan rahasia kepada diriku sendiri:
“Untuk mencari Tuhan yang tidak membuatku takut untuk hidup.”
Tegar tertawa lirih, lalu mengangguk. “Kalau kau bertemu Dia, bilang aku juga ingin bicara.”
Aku menepuk bahunya. “Kau akan bertemu sendiri. Pada caramu.”
Beberapa jam kemudian, aku mendengar kabar itu lewat bisik-bisik orang, lewat langkah tergesa yang tak berani menoleh. Tidak ada tangis besar. Tidak ada kerumunan. Hanya sebuah tubuh yang akhirnya diam, dan sebuah nama yang perlahan berhenti disebut. Jalan kembali bersih. Lampu kembali menyala seperti biasa.
Setelah itu aku berjalan. Tidak tahu arah. Tidak tahu tujuan. Tidak membawa apa-apa kecuali tubuh yang akhirnya siap memulai ulang. Di persimpangan kota, aku berhenti sebentar dan menatap langit. Langit kota yang kotor, penuh asap, penuh suara. Tapi pada titik itu, aku merasa langit justru lebih jujur daripada manusia mana pun yang pernah kukenal.
Di sanalah aku menyadari sesuatu.
Aku memang diberi pilihan.
Tapi pilihan tidak selalu berarti perlindungan.
Aku bisa memilih jalan, tanpa dijamin keselamatan.
Aku bisa beriman, tanpa dijanjikan keadilan.
Aku bisa hidup jujur, tanpa ada yang menjamin aku akan diselamatkan oleh kejujuran itu sendiri.
Dan mungkin, justru di situlah maknanya.
Aku tidak lagi ingin memahami Tuhan lewat mulut orang lain. Bukan lewat kitab yang tak sanggup kubaca tanpa rasa takut. Bukan lewat teriakan yang mengatasnamakan-Nya sambil memukul manusia lain. Aku juga tidak ingin menyangkal-Nya dengan pongah, seolah aku lebih tahu daripada segala kemungkinan yang belum kupahami.
Aku menarik napas panjang dan melangkah.
Setiap tapak terasa ringan. Setiap langkah terasa sepertbiasa, meski aku tidak tahu kepada siapa.
Aku tidak lagi ingin menemukan kebenaran. Aku ingin hidup bersama ketidaktahuan. Karena mungkin, di situlah Tuhan bersembunyi
"Aku masih ingin bertanya tentang Tuhan.
Bukan karena aku ragu la ada,
melainkan karena aku tak lagi yakin pada siapa yang paling berhak menjelaskan-Nya.
Di desa, nama-Nya dijaga seperti harta.
Di kota, nama-Nya dipamerkan seperti spanduk.
Aku melihat orang-orang begitu yakin sedang
membela Tuhan,
tapi lupa menanyai diri sendiri: siapa yang sebenarnya sedang mereka lindungi iman, atau kuasa?
Maka aku berjalan.
Bukan untuk menemukan jawaban,
melainkan agar pertanyaanku tetap hidup.
Sebab mungkin Tuhan tidak bersemayam di kesimpulan,
melainkan di langkah yang tak selesai.
Dalam ragu yang jujur.
Dalam tangan yang tetap menolong meski tak tahu sedang menyentuh siapa.
Jika la benar ada,
barangkali la sedang berjalan bersamaku sekarang
tanpa nama,
tanpa wajah,
tanpa merasa perlu dibela."
—TAMAT—