Kopi Kacau
Peralihan Rona Jingga hingga tiba tenggelam kelam, 12 Oktober 2025 Solo. Setelah semua permulaan hampa, setidaknya beberapa cawan kopi sempat terbesit di angan lelah yang terasa ramah. Aku, Sebagai seseorang yang benar-benar mencintai kopi yang flat—tanpa rasa manis sedikit pun, dengan sudut berpikir, kalau pahit, ya pahit sekalian. Jangan tanggung-tanggung
Namun, sekiranya di penghujung waktu yang terasa begitu ganjil ini, aku ingin mencoba sesuatu berbeda yang antimainstream. Sesuatu yang pada akhirnya, kucoba juga eksperimen aneh dari mereka itu: Ice Roast dicampur Hydro Coco. Katanya sih enak. KataNya bisa jadi “my new favorite?"
Dan setelah ramu dan kucicip, satu hal yang ingin kutanyakan pada semesta: “Apa yang sebenarnya kalian pikirkan?”
Serius! transisi rasanya kacau. Awalnya manis, sebentar saja, manis yang rasanya seperti harapan kecil yang cuma mampir di tepi lidah, lalu jlep! tiba-tiba pahit. Dan pahitnya bukan pahit yang tenang, tapi pahit yang membuatku berpikir,
“Ini aku yang salah meracik, atau memang tren ini seaneh itu, untuk diriku yang terlalu idealis ini?"
Namun di balik rasa yang aneh, ga karuan itu, ada sesuatu yang menarik. Entah bagaimana, aku justru menemukan filosofi kehidupan di dalam secangkir gelas itu. Sekilas terdengar seperti ini: Hidup, pada dasarnya, memang seperti kopi yang flat, pahit dari awal sampai akhir. Kalau tiba-tiba ada manis di depan, itu biasanya cuma pengantar menuju kekecewaan yang lebih cepat datang. Seperti hidup yang pura-pura memberi harapan, lalu menikam balik dengan kenyataan.
Mungkin itu sebabnya aku lebih memilih kopi flat yang pahit sejak awal. Setidaknya, dari tegukan pertama sampai terakhir, aku tahu rasanya jujur.
Tidak seperti tren aneh itu yang di awal membuat tersenyum, namun di tengah membuat kaget, dan di akhir meninggalkan penyesalan.
Jadi, jika boleh kusebut, rasanya memang zonk teruntuk sudut pandang ku ini, tapi maknanya dalam. Dan mungkin, hikmahnya ada di situ:
kadang, sesuatu yang pahit sejak awal justru lebih mudah diterima, daripada sesuatu yang manis di awal tapi mengecewakan di tengah jalan.
Maka, setelah semua tegukan dan renungan itu, aku paham akan satu hal: tidak semua yang populer pantas diikuti, dan tidak semua yang pahit harus dihindari. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah menerima rasa apa adanya.
Bahkan kopi itu sendiri, selalu punya cara sendiri untuk menegur, “ia pahit” tapi jujur. Oleh karena itu, sebohong-bohongnya aku pasti akan menenggak sisa pahit kopi di dasar gelas, untuk menyadari bahwa setiap rasa punya nasibnya sendiri: ada yang ditelan, ada yang disimpan. Sebab maknanya tetap menguap, meninggalkan bisik kecil di antara tenggorokan dan kesadaran, bahwa pahit pun bisa menjadi cara semesta mengajarkan keikhlasan.
Dari hal hal ini Aku belajar bahwa hidup tak selalu perlu disiasati dengan rasa lain agar tampak lebih baik. Dan di situlah letak kedewasaan, sederhana, saat kita tak lagi sibuk mencari manis, tapi mampu meneguk kenyataan, apa pun, tanpa kehilangan makna di dalamnya. Sebab, pada akhirnya, di antara segala yang ganjil di dunia ini, kejujuran rasa adalah kenikmatan paling tulus yang bisa diteguk hingga akhir.