Menyembah #2
BAB II: MENJAUHI TUHAN
Aku berjalan menuju kota, meninggalkan desa itu seperti seseorang meninggalkan luka yang menolak sembuh. Angin sore menyeret bayanganku jauh ke depan, seolah mendahuluiku menuju sesuatu yang tidak kukenal. Jalanan panjang, sunyi, dan tanah masih bau lembap setelah hujan semalam. Aku berjalan tanpa arah yang pasti, tanpa keyakinan apa pun, hanya keyakinan tunggal bahwa mungkin kota bisa memperbaiki sesuatu yang telah remuk di dalam diriku—walaupun entah dari mana pikiran bodoh itu datang. Dan ketika langkahku semakin jauh dari desa itu, tiba-tiba masa lalu menyeretku kembali, seperti tangan gelap yang mencengkeram kerahku dan memaksaku menengok. Seolah berkata: “Hei, kau mau ke mana? Belum selesai urusanmu dengan aku.”
Begitulah, ingatan memanggilku kembali ke rumah kecil itu—rumah tempat aku pertama kali belajar bahwa Tuhan bisa hadir dalam dua nama, tapi tak satupun terasa cukup untuk disebut nyata. Ayahku seorang Kristen, ibuku seorang Muslim, tetapi keduanya tak pernah benar-benar menjalani agama. Mereka percaya pada versi Tuhan yang paling mudah: Tuhan yang tidak perlu disembah, tidak perlu dipertanyakan, dan tidak perlu dituruti. Ayah hanya ke gereja saat Natal, itu pun jika hujan tidak turun. Ibu hanya salat ketika merasa bersalah setelah marah-marah. Mereka bukan orang jahat—hanya orang-orang yang tak sempat percaya. Dan aku, yang lahir dari persimpangan dua keyakinan yang sama-sama setengah matang, tumbuh dengan kebingungan yang lebih besar daripada imanku.
Aku dulu sering bertanya, “Tuhan itu apa?”
Ayah menjawab, “Cinta.”
Ibu menjawab, “Kebaikan.”
Tapi dalam rumah kami, tak ada cinta, tak ada kebaikan.
Hanya ada suara piring beradu, pintu dibanting, dan diam yang panjang setiap malam.
Dan aku belajar bahwa jawaban-jawaban itu omong kosong.
Suatu kali aku menanyakan hal yang lebih dalam.
“Jika Tuhan itu satu, kenapa namanya dua?”
Ayah tersenyum samar, ibu memalingkan wajah.
Tak ada yang menjawab.
Di situlah aku pertama kali paham: orang dewasa tak selalu tahu apa yang mereka sembah.
Sejak itu, aku tumbuh tanpa Tuhan—bukan karena aku membencinya, tetapi karena aku tak pernah benar-benar diperkenalkan pada-Nya. Aku seperti anak yang dibiarkan membaca buku tanpa huruf. Dan ketika dunia bertanya padaku siapa Tuhanku, aku hanya bisa menjawab: “Aku tidak tahu.”
Masuk usia remaja, kebingungan berubah menjadi kemarahan yang tak terucapkan. Aku melihat kawan-kawanku pergi ke masjid, ke gereja, ada yang mengaji, ada yang menyanyi pujian. Mereka punya tempat pulang, sementara aku tak punya siapa pun selain diriku sendiri. Aku mencoba bertanya pada guru agama, tapi jawabannya seperti hafalan yang sudah ditelan ribuan kali oleh murid sebelumnya—tidak ada rasa. Dan aku semakin yakin bahwa Tuhan hanyalah nama, sementara hidupku tidak tersentuh oleh nama mana pun. Sejak itu aku memilih ateisme, bukan karena aku paham tentangnya, tapi karena itu satu-satunya jalan untuk melindungi hati yang pecah.
Ateisme, bagiku bukan pernyataan, tapi pelarian.
Semacam benteng terakhir dari dunia yang tak pernah memahamiku. Dan pelarian itu pelan-pelan menuntunku pada jalan yang lebih gelap.
kebingungan itu tidak serta-merta berubah menjadi kenakalan, hanya lebih dulu menjelma menjadi keterasingan. Di sekolah, aku mulai sadar bahwa pertanyaan-pertanyaanku tidak disukai. Bukan karena salah, tapi karena tidak berada di tempat yang diharapkan. Ketika pelajaran agama berlangsung, aku duduk seperti tamu yang salah masuk ruangan. Aku tidak mengganggu, tidak melawan, hanya diam-namun diamku dianggap ancaman. Beberapa guru memandangku dengan cara yang sulit dijelaskan: bukan marah, bukan benci, tapi waspada. Seolah aku membawa sesuatu yang bisa menular.
Di rumah, keadaan tak jauh berbeda. Ketika aku mulai berkata bahwa aku tidak percaya pada Tuhan mana pun, itu terdengar seperti pengakuan dosa yang tidak memiliki kitab pengampunan. Ayah terdiam lebih lama dari biasanya. Ibu menangis, bukan karena kehilangan iman, tapi karena takut pada penilaian orang. Sejak hari itu, aku belajar bahwa ateisme bukan sekadar pilihan batin, ia adalah status sosial. Dan status itu tidak diterima.
Aku tidak dipukul. Tidak diusir. Tidak dihukum secara resmi. Tapi aku dipinggirkan dengan rapi. Aku tidak lagi diajak bicara soal masa depan. Namaku jarang disebut dalam doa. Di sekolah, aku sering dipanggil bukan untuk dimarahi, tapi untuk "diluruskan". Seolah ada sesuatu yang bengkok dalam diriku hanya karena aku tidak menyebut nama Tuhan. Aku mulai merasa bahwa, di mata mereka, ateis bukan orang yang belum percaya-melainkan orang yang sudah salah.
Pelan-pelan, aku menyerap pandangan itu. Jika ateis selalu dicurigai, jika ateis selalu diasosiasikan dengan rusak dan sesat, maka mungkin memang itulah peranku. Bukan karena aku ingin, tapi karena tidak ada ruang lain yang disediakan. Aku tidak tahu bagaimana membuktikan bahwa aku bisa menjadi baik tanpa iman, karena tak seorang pun mau melihat. Dan ketika seseorang terus-menerus dianggap jahat, pada titik tertentu ia berhenti membantah.
Bukan aku yang pertama kali melangkah ke gelap.
Gelap itu yang mendatangiku lebih dulu-melalui tatapan, bisikan, jarak, dan pengusiran yang sopan. Aku tidak mencari dunia hitam; dunia hitamlah yang membukakan pintu ketika semua pintu lain tertutup. Di sana, tidak ada yang menanyakan siapa Tuhanku. Tidak ada yang meminta penjelasan atas keyakinan. Yang ditanya hanya satu: berani atau tidak.
Dan di situlah aku akhirnya menjadi apa yang selama ini mereka sebut-sebutkan tentangku.
Aku tidak merasa sedang memberontak. Aku merasa sedang memenuhi ekspektasi.
Aku pernah memukul orang tanpa alasan yang kuat, pernah memalak, pernah menghancurkan kios kecil seorang bapak tua yang hanya tak mau membayar “uang hutang”. Aku pernah melihat darah mengalir dari kepala seseorang dan tidak merasakan apa pun selain dingin. Hidupku mulai kehilangan warna. Aku berjalan, berkelahi, tertawa, minum, merampas, tertawa lagi. Dan entah kenapa, dunia gelap itu seperti rumah yang lebih nyaman dibanding rumah masa kecilku.
Sampai suatu hari semuanya berakhir. Polisi datang. Penggerebekan. Senjata api. Teriakan. Dan aku, dalam kekalutan yang tidak pernah kulihat sebelumnya, akhirnya tertangkap. Ironisnya, itu pertama kali dalam hidupku aku merasa Tuhan "jika ada" sedang menepuk dahiku sambil berkata: “Sudah cukup.” Tapi aku tidak mendengarnya sebagai teguran. Aku hanya mendengarnya sebagai nasib.
Penjara.
Tempat di mana manusia kehilangan namanya, kehilangan masa lalunya, kehilangan harapannya. Tempat di mana setiap langkah terasa seperti berjalan di dalam tubuh sendiri yang sudah lama mati. Aku masuk penjara tanpa penyesalan, tapi perlahan-lahan penjara mengikis diriku sedikit-sedikit seperti air mengikis batu.
Hari pertama aku dipukuli. Hari kedua barangku dirampas. Hari ketiga aku harus memilih kubu: kelompok geng dalam penjara atau para sipir yang seakan-akan lebih kejam dari narapidana itu sendiri. Setiap malam ada suara jeritan, suara pukulan, suara orang berdoa sambil menangis, dan suara-suara yang tak bisa dijelaskan. Penjara bukan hanya bangunan fisik—itu labirin yang dibangun oleh rasa bersalah manusia.
Kegelapan penjara bukan hanya berasal dari orang-orangnya. Ada aturan tak tertulis yang harus dipatuhi. Yang kuat memerintah, yang lemah menyerah, yang pintar menipu, yang bodoh dipermainkan. Semua ibarat ritual primitif yang eksistensinya dipertahankan oleh ketakutan kolektif. Aku bukan yang terkuat, tapi aku juga bukan yang terlemah. Namun di penjara, kekuatan fisik hanya satu dari sekian banyak mata uang. Yang lebih mahal adalah koneksi, keberanian, dan kemampuan untuk bertindak kejam tanpa berkedip.
Aku melihat orang bunuh diri.
Aku melihat orang diperkosa.
Aku melihat orang dijual.
Aku melihat orang dipukuli hanya karena menatap terlalu lama.
Dan aku melihat diriku sendiri berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.
Untuk bertahan hidup, aku harus menjadi lebih dingin, lebih keras, lebih kejam. Aku melakukan hal-hal yang bahkan tidak pantas untuk disebutkan. Hal-hal yang membuatku bertanya lagi: “Jika Tuhan ada, kenapa Dia membiarkan semua ini?” Dan jawabannya selalu sama: Tuhan itu hanya nama. Nama tidak bisa membuka pintu penjara.
Aku berada di penjara selama beberapa tahun, meski rasanya seperti beberapa abad. Dan saat akhirnya aku keluar, bukan lega yang kurasakan—tapi hampa. Aku percaya penjara adalah dunia paling gelap yang pernah kulihat, tapi aku salah. Yang paling gelap adalah diriku sendiri ketika melangkah keluar dari sana.
Aku keluar penjara dan berjalan tanpa tujuan. Penjara itu ternyata tidak jauh dari desa tempat kemarin aku singgah, Jadi, tanpa tahu harus ke mana, aku menuju desa itu. Mungkin karena itu satu-satunya tempat yang terlihat tidak sekejam dunia lain. Mungkin karena aku lelah. Mungkin karena aku ingin memulai sesuatu yang lebih baik. Aku tidak tahu.
Tapi aku berjalan. Dan berjalan. Dan sampai akhirnya, aku tiba di desa itu. Dan dari situ aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ini menuju kota, berharap entah apa yang bisa kugenggam di sana. Dan kini aku kembali berjalan. Menggamit masa lalu seperti menggamit bayanganku sendiri. Kota masih jauh, tapi masa lalu lebih dekat dari napasku. Aku tidak tahu apa yang menungguku di kota nanti—kebaikan? keburukan baru? atau justru kehancuran yang lebih pelan?
Tapi aku terus berjalan. Karena diam membuatku gila. Karena berhenti membuatku mati. Dan karena mungkin, sekecil apa pun kemungkinan itu di depan sana ada sesuatu yang kuharap tidak gelap.