Sesembahan

ORANG ATHEIS TERKADANG JUSTRU LEBIH MENYELAMI HAKIKAT TUHAN DARIPADA ORANG BERAGAMA

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang menyatakan dirinya sebagai ateis. Ia tidak tiba-tiba menjadi demikian, melainkan melalui suatu proses panjang yang berawal dari pencarian akan hakikat kebenaran.

Pertanyaan-pertanyaan awal yang mengusik pikirannya sederhana namun fundamental: “Tuhan mana yang benar? Mengapa wujud dan nama Tuhan beragam? Mengapa setiap agama mengklaim bahwa ajarannya lah yang paling sahih? Jika demikian, yang sungguh benar itu yang mana?”

Ia menempuh perjalanan panjang dalam pencarian: membaca berbagai literatur, berdialog dengan banyak orang, serta membuka dirinya pada beragam perspektif. Namun akhirnya, ia sampai pada sebuah simpulan yang menandai peralihan besar dalam hidupnya:
"Saya tidak ingin lagi terjebak dalam perdebatan mengenai Tuhan. Saya melepaskan diri dari segala bentuk klaim identitas yang disematkan pada Tuhan. Saya tidak hendak melabeli sesuatu yang transenden dengan nama dan wujud tertentu sebagaimana lazim dilakukan dalam tradisi-tradisi agama."

Dengan sikap itu, ia membebaskan dirinya dari keterikatan pada konsep-konsep verbal dan simbolik tentang Tuhan. Dalam nalar dan perasaannya, ia menolak untuk mengikat dirinya pada keragaman identitas Tuhan yang diperdebatkan.

Namun, di kedalaman nuraninya, ia tetap menyadari adanya SESUATU—sebuah realitas yang tak terjangkau oleh nalar manusia, yang darinya lahir keteraturan semesta, harmoni kehidupan, serta keberlangsungan eksistensi. SESUATU itu tak mungkin dipahami oleh otak manusia, tak dapat dipresentasikan dalam definisi ataupun gambaran. Maka, ia menyerahkan pengalaman eksistensial itu pada sebuah istilah yang sederhana: “SEMESTA.”

Sejak ia melepaskan diri dari polemik identitas ketuhanan, ia justru hidup dengan mengikuti suara hati nuraninya. Ia mengasah akal sehat, menghidupkan empati, dan membangun kehidupannya di atas dasar kemanusiaan. Hasilnya, ia tumbuh menjadi pribadi dengan nalar yang jernih, kecerdasan emosional yang tinggi, dan kebijaksanaan yang menonjol.

Prinsip yang dipegangnya sederhana: “Saya hidup di dunia ini sekadar menjalankan kodrat saya sebagai manusia. Manusia memiliki kemanusiaannya, dan itu saja yang saya jadikan pegangan.”

Tanpa kita sadari, justru akhlak semacam inilah yang seharusnya menjadi wujud nyata dari orang-orang beragama—mereka yang sejak dini dididik untuk mengenali Tuhan. Ironinya, SESUATU yang ia sadari sebagai dasar harmoni semesta, pada hakikatnya merupakan inti dari Tuhan yang selama ini justru dicari-cari oleh orang beragama.

Betapa paradoksal: ketika manusia melepaskan diri dari kemelekatan akan Tuhan dalam bentuk identitas, justru di saat itulah Tuhan menyingkapkan HAKIKAT-Nya. Itulah yang dapat disebut sebagai makrifat.


---

Sesungguhnya, Tuhan tak pernah dapat diandaikan dengan apa pun. Segala sesuatu yang dapat dipikirkan atau dibayangkan bukan lagi Tuhan, melainkan makhluk. Dengan kata lain, Tuhan adalah wilayah “ketidaktahuan” manusia. Adakah manusia yang tidak memiliki ketidaktahuan? Tidak ada! Maka, benarkah ada “ateis”?

Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa luas ketidaktahuannya. Justru di situlah “Tuhan”-nya semakin besar. Itulah sebabnya saya begitu menyukai terjemahan Allahu Akbar sebagai: “Allah selalu lebih besar daripada sebesar apa pun engkau mampu membayangkan kebesaran-Nya.”

Jika demikian, apakah itu berarti kita selama ini “menyembah ketidaktahuan”? Ya, sebab itulah simbol Gelung Minangkara dari tokoh Bima: tinggi di belakang, rendah di depan. Bima membangun rencananya di atas dasar pengetahuan, namun ketika sampai pada eksekusi, ia pasrah total kepada misteri yang tak diketahui. Di situlah letak kepasrahan, dan karena itu para leluhur menilai Bima sebagai representasi tauhid yang paling tinggi.

Namun, bukankah Tuhan telah menyebut diri-Nya satu? Ya, tetapi ketika berbicara dalam bahasa manusia, Tuhan hanya dapat menggunakan istilah “satu,” sebab hanya kosa kata itulah yang tersedia di luar bahasa batin. Jika manusia terjebak memahaminya sebagai “satu” dalam arti numerik, maka Ia bukan lagi Tuhan—karena sudah dapat diserupakan dengan makhluk.

Mengapa, lalu, banyak buku berbicara tentang eksistensi kaum ateis? Mungkin karena para penulisnya gusar kepada mereka yang tidak sekadar berkomat-kamit mengucap syukur kepada Tuhan, tetapi justru meneliti, menyelidiki, dan mencipta berdasarkan apa yang dikagumi. Sementara banyak yang beragama hanya mengucap “terima kasih telah menciptakan ini” tanpa pernah berkreasi, sehingga kehidupannya dijajah oleh teknologi yang justru lahir dari kaum yang disebut “ateis.” Dari situlah stigma ateisme menyebar, dan banyak orang kemudian latah menyebut adanya “ateis.”



Postingan populer dari blog ini

Revolusi Cinta

Album Manifesto