Berita Kosong

Apakah ini bermula? Gelap yang kudekap terlalu akrab, tentu bukan karena orang lain menyaksikannya, melainkan karena aku hidup di dalamnya. Mereka memanggilnya nasibku; bagi mereka, itu hanya takdir yang harus diterima. Mereka tak pernah mengerti bahwa kelamku adalah aku dan jejak-jejak kecil yang tak terlihat di antara tawa mereka.

Di suatu pagi, untung nya aku terbangun dan untuk beberapa saat kubiarkan dunia digital mengalir di layar ponselku: wajah-wajah yang sedang membuat konten, yang menata diri menjadi pelukis, penyanyi, sastrawan—semua menunjukkan bagian terbaiknya. Mereka memamerkan eksistensi dalam potongan-potongan yang rapi. Di sana tidak ada tempat untuk kegagalan, untuk luka yang menganga, atau untuk keburukan yang menempel di kulit manusia. Seolah dunia hanya menayangkan kemenangan, sementara sisa hidup yang riuh dan gelap dikecilkan hingga tak tampak. Aku bertanya pada diri: apakah kita rela hidup di panggung yang hanya menampilkan kemenangan? Bukankah manusia juga milik jerih, lelah, dan kesedihan yang seharusnya punya panggung?

Aku merasa, Aku sesepi: sunyi yang bukan sekadar sepi, melainkan suatu keadaan di mana kehadiranku hampir tak pernah dimintai. Tidak ada orang yang sungguh-sungguh ingin mengetahui aku; mungkin memang belum ada. Ketika mereka melihatku, mereka melihat versi yang telah disederhanakan — seorang siswa dengan nilai tinggi, seorang yang pandai dalam penghitungan angka-angka yang tampak menjulang. Tetapi angka-angka itu hampa. Hapusan tinta di kertas ujian tidak menyembuhkan luka, tidak menambal ruang kosong di meja makan kami, dan tak selalu membuat orang tua lega lebih lama dari tepuk tangan yang meriah.

Seolah ada ironi yang terus mengikutiku: tawaku lahir dari sesuatu yang menyedihkan-aku harus menangis agar bisa benar-benar tertawa. Hidup pula sering kali seperti sandiwara di mana eksistensiku baru menjadi nyata ketika aku tidak lagi berada di panggung — ketika kabar kepergianku menimbulkan air mata dan dusta rindu. Orang-orang akan bertanya-tanya, akan terkejut, dan hanya pada saat itu mereka mengakui bahwa sahabat, anak, atau kekasih mereka memang pernah ada. Namun setelah itu, kesibukan kembali mengambil alih; mereka tertawa lagi, marah lagi, hidup lagi. Aku tahu itu bukan kepedulian abadi—hanya gema singkat yang cepat padam, muram

Sempat terpikiran tentang bunuh diri, yang kadang seperti bisik yang lembut tetapi berat. Aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang keren. Bunuh diri bukanlah suatu pilihan; sering kali itu adalah tanda seseorang tak lagi menemukan rindu. Mereka yang pernah diberi harap, masih berusaha mencari alasan untuk bertahan. Namun hidup kerap berusaha meruntuhkan kita sedikit demi sedikit. Jika kau bertanya padaku, apakah aku akan mengambil jalan itu, jawabanku sederhana: untuk sekarang, bukan. Karena ada hal-hal lain yang membuatku tetap bertahan — bayangan tentang siapa yang mungkin menantiku, gagasan bahwa kehadiranku mungkin penting untuk orang yang belum sempat kukenal. Harapan itu tipis, namun lebih tebal daripada segala pembenaran untuk pergi.

Sebab aku ingin dunia menjadi lebih jujur. Bukan jujur karena ingin dipuji, tetapi jujur karena manusia bukanlah kumpulan highlight. Jika setiap orang berani membuka lembar kelamnya, mungkin kita akan lebih sering menemukan tempat untuk menaruh luka bersama. Tuhan tahu, tatapan mata saja tak cukup untuk membaca luka. Kita harus kembali mendengarkan badan, menelaah napas, meraba denyut yang tak terlihat dalam kata-kata manis.

Bahkan dalam kebingungan antara iman dan keraguanku, aku berdiri di tengah: belum kafir, belum sepenuhnya beriman. Di sana, di antaranya, aku menjalani hari-hari yang sunyi dan penuh ragu. Ada sesuatu yang menyakitkan dalam menyadari bahwa ketika kepergianku menjadi berita, barulah orang menyadari adanya aku. Itu menimbulkan malapetaka kecil: keingingan untuk dianggap penting—tetapi aku menolaknya, karena aku ingin dihargai sebelum lenyap, bukan karena setelahnya.

Maka akhir ini, aku menulis bukan untuk mengundang belas kasih itu, melainkan untuk mengingatkan: kita semua menyimpan sisi gelap yang mungkin tidak tampak di umpan berita ataupun layar kecil. Kita semua perlu ruang untuk menjadi nyata—untuk menyatakan kegagalan, untuk menanggung malu, untuk mengakui bahwa bukan hanya kemenangan yang pantas ditayangkan. Aku ingin kehidupan yang tak terus-menerus menekan kesedihan menjadi tidak ada; aku ingin agar kesedihan diberi ruang, agar kita belajar menjadi manusia yang lebih peka.

Akhirnya, aku memilih untuk bertahan dengan caraku: menerima ironi, mengakui rasa sesepi, merawat luka yang tak terlihat. Aku tidak menuntut dunia berubah dalam sekejap; cukup satu orang yang mau melihat, mendengar, dan menanggung sedikit dari beratku. Jika itu datang, barang kali aku akan menemukan alasan lain untuk tidak lagi menunggu momen ketika kepergianku menjadi headline. Hingga saat itu, aku berjalan perlahan—mencari, menulis, dan berharap bahwa kejujuran kecilku ini mungkin membuka satu jendela bagi mereka yang juga hidup dalam gelap.


Postingan populer dari blog ini

Revolusi Cinta

Sesembahan

Album Manifesto