Ambiguitas
Terlintas sejenak hal ini lucu, tapi juga ironis, bahwa di zaman yang katanya serba “jelas”—dengan data, algoritma, dan kecepatan informasi—urusan cinta justru jadi hal paling tidak pasti. Kita hidup di dunia yang menuntut kepastian dalam segala hal, tapi justru khawatir ketika berhadapan dengan rasa. Seolah, cinta adalah satu-satunya anomali yang menolak didefinisikan.
Cinta kini menjadi sejenis perjudian yang dibungkus dengan kalimat manis: “mengikuti kata hati.” Padahal, siapa yang tahu hati itu bicara jujur, atau cuma sedang berhalusinasi di bawah cahaya dopamine yang salah arah?
Kita semua pernah ada di posisi itu—antara ingin mengungkapkan dan menahan diri, antara takut kehilangan dan tidak yakin apakah pernah dimiliki. Kita saling mengantarkan ragu. Laki-laki takut ditolak, perempuan takut disalahpahami. Dan di antara keduanya, lahirlah ambiguitas yang samar,
Cinta di zaman ini bukan lagi tentang keberanian mengungkap, tapi tentang kecanggungan menentukan posisi. Kita takut melangkah karena tidak tahu diri ini dipandang sebagai siapa. Teman? Asing? Atau sekadar pengisi ruang kosong di notifikasi?
Kita menunggu momen yang mungkin tak pernah datang—momen yang katanya “takdir.” Padahal, takdir pun kadang butuh diberi arah. Tapi kita lebih suka diam, memuja dari jauh, lalu mengaku “menyerah pada semesta.” Padahal, seringkali kita cuma kalah oleh rasa takut kita sendiri.
Ada ironi lain yang lebih halus tapi menusuk: penolakan cinta dianggap kegagalan total. Padahal, bukankah penolakan justru bentuk kejelasan paling jujur dari semesta? Ia memberitahu kita, tanpa basa-basi, bahwa jalan ini bukan untuk kita. Tapi masyarakat menanamkan stigma bahwa ditolak berarti kalah. Maka, banyak yang memilih hidup dalam ketidakpastian, daripada mengambil risiko yang berujung malu.
Kita akhirnya lebih memilih jalan yang tidak jujur: terus dekat tanpa kepastian, terus memberi perhatian tanpa arah, terus berharap tanpa dasar. Lalu ketika semuanya hancur, kita bilang, “padahal kita nggak pacaran.” Sebuah kalimat yang menertawakan diri sendiri.
Dan anehnya, jatuh cinta juga bisa jadi hal yang “tidak asik.” Karena ia datang tiba-tiba, tanpa aba-aba, membuat kita seolah menemukan seseorang padahal belum tentu. Kita tidak siap, tapi sudah terlanjur jatuh. Kita belum pantas, tapi sudah merasa memiliki. Dan di situlah kebodohan paling indah manusia dimulai.
Kadang kita terlalu cepat menyebutnya cinta, padahal baru saja tersandung rasa kagum. Kadang kita terlalu yakin itu takdir, padahal cuma gema dari kesepian yang kita pelihara.
Namun, bukan berarti cinta harus ditolak. Tidak juga. Cinta memang absurd, tapi justru karena absurditasnya itulah ia layak direnungkan. Mungkin, cinta memang tidak untuk dimiliki, melainkan untuk dialami. Untuk menguji, bukan untuk memastikan.
Cinta adalah ruang di mana kita belajar kehilangan arah tanpa benar-benar tersesat. Ia mengajarkan kita tentang arti menerima—bahwa tidak semua yang kita mau akan jadi milik kita. Bahwa kadang, Tuhan berbicara lewat rasa sakit penolakan, agar kita tahu bagian mana dari diri kita yang masih perlu diperbaiki.
Mungkin, di dunia yang sibuk menuntut kepastian, ambiguitas cinta justru jadi semacam seni bertahan. Seni untuk tidak tahu tapi tetap berjalan. Untuk sadar bahwa setiap langkah menuju seseorang bisa jadi langkah menjauh dari diri sendiri. Tapi toh, tetap kita ambil juga langkah itu—karena kita ingin tahu, bukan apa yang akan terjadi, tapi siapa kita setelah semuanya selesai.
Pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang berani nembak lebih dulu, atau siapa yang menolak terakhir. Tapi tentang siapa yang cukup jujur untuk mengakui, setidak itulah keresahan ku perihal ketimpangan yang meragukan kejelasan cinta
---
> “Cinta bukan tentang siapa memiliki siapa, tapi siapa yang berani jujur di tengah ketidakpastian.”
> “janganlah menghabiskan waktu dan aksi untuk orang yang tidak tepat.“