Posisi Tuhan
[DISCLAIMER: Dimohon untuk menelaah dari konten yang telah disampaikan dengan bijak]
Di zaman ini, kita hidup dalam dunia yang penuh suara—termasuk suara-suara rohani yang dibungkus dalam bentuk konten. Suatu kali, gue melihat sebuah reels yang isinya terdengar sangat menyentuh, tapi juga membuat gue terdiam. Katanya, “Saya habis ibadah, bertemu Tuhan. Dan bagi kalian yang pernah menyakiti hati saya, saya sudah aduin ke Tuhan.” Sepintas, itu terdengar religius, bahkan terkesan penuh keikhlasan. Tapi makin gue renungkan, gue merasa ada yang salah. Ada ego yang belum selesai, ada luka yang belum pulih, ada dendam yang disamarkan lewat kalimat suci. Gue gak munafik. Gue pernah ada di fase itu. Pernah bilang, “Lu mau nyakitin gue? Bebas. Gue aduin ke Tuhan.” Saat itu gue kira itu bentuk keimanan. Tapi sekarang, gue paham: itu cuma cara halus buat ngelindungin harga diri gue yang lagi berdarah-darah. Itu bukan bentuk pasrah. Itu bentuk pelarian. Ibadah itu bukan tempat buat naik panggung dan ngumumin luka. Bukan tempat buat nunjukin siapa yang salahin lo, lalu lo lempar namanya ke langit, berharap Tuhan turun tangan ngebales. Ibadah itu bukan arena curhat publik ke langit demi menyembuhkan ego. Ibadah itu tempat lo merendah, serendah-rendahnya. Biar langit dengar, bukan biar ego menang. Tuhan nggak ngajarin dendam. Tuhan ngajarin bersih. Tuhan ngajarin lapang. Tapi yang kita sering lakukan? Nyimpan luka, lalu bungkus pakai doa. Kita bilang ikhlas, padahal kita masih berharap balas.
Gue belajar bahwa ikhlas itu bukan kalah, dan juga bukan nyerah. Justru ikhlas adalah bentuk paling kuat dari perlawanan yang tenang. Lo perlu kekuatan batin yang luar biasa buat tetap bersikap baik meskipun lo tahu lo disakiti. Buat tetap senyum meski hati lo luka. Buat tetap diam saat harga diri lo dihina. Dan itu... nggak semua orang mampu.
Ikhlas bukan berarti lo membiarkan semua orang terus melukai lo. Bukan berarti lo harus jadi korban selamanya. Justru di titik tertentu, ikhlas juga berarti tegas. Karena ada perbedaan besar antara sabar dan bodoh, antara kuat menahan dan membiarkan. Kalau lo udah terlalu sering disakiti, dan mereka tetap cuek? Lawan. Tapi bukan dengan tangan, bukan dengan amarah. Lawan dengan harga diri. Lawan dengan batas yang jelas. Banyak orang mengira, mengadu ke Tuhan itu adalah bentuk keimanan. Tapi mari bedakan: curhat dan ngadu itu beda. Curhat adalah ketika lo datang dengan rendah hati, meminta ketenangan, meminta petunjuk. Tapi ngadu—dalam konteks ini—adalah saat lo minta Tuhan ngebales semua yang lo rasa gak adil. Dan Tuhan? Dia bukan tempat lo minta balas dendam. Tuhan bukan Maha Pengadu. Dia Maha Mendidik. Tuhan gak turun ke bumi buat nyerang musuh-musuh lo. Dia hadir buat nguatin lo, biar lo sanggup ngadepin dunia. Biar lo gak tumbang. Biar lo tetap waras meski dunia kadang gak adil. Jadi kalau lo masih terus ngeluh tanpa usaha, masih berharap Tuhan beresin semuanya tanpa lo gerak sedikit pun, lo bukan beriman—lo cuma manja. Tuhan bantu mereka yang mau bangkit. Tuhan bantu mereka yang mau berubah. Tuhan bantu mereka yang nyuci lukanya sendiri, bukan yang cuma ngeluh sambil terus berdarah. Hidup ini bukan tentang siapa yang paling sering disakiti, tapi siapa yang paling kuat untuk gak nyakitin balik. Dan kekuatan itu cuma bisa lahir dari hati yang bersih. Dari jiwa yang ikhlas. Dari manusia yang sudah cukup dewasa untuk tidak berharap luka orang lain jadi hiburan pribadi. Jadi kalau lo lagi disakiti, dan lo mikir buat ngadu ke Tuhan—tahan sebentar. Tanya dulu diri lo: lo mau curhat, atau mau balas? Lo mau kekuatan, atau mau pelampiasan? Karena Tuhan gak butuh daftar nama siapa aja yang nyakitin lo. Dia cuma nunggu satu hal: usaha lo buat tetap jadi manusia baik... meski dunia kejam