Surat Untukmu #1
Aku Sayang Banget Sama Kamu
Dibilang sayang? Aku sayang banget sama kamu. Bahkan aku lebih sayang kamu dibandingkan sayang sama diriku sendiri. Aku suka semua hal tentang kamu—aku suka saat kamu marahin aku, aku suka dengar suara kamu yang bikin hatiku tenang, aku juga suka banget setiap kali dapat notifikasi dari kamu. Notif kamu adalah hal yang paling aku tunggu setiap hari.
Kamu nggak perlu takut aku akan menghilang, karena aku nggak akan ninggalin kamu dalam keadaan apa pun. Kamu adalah orang yang selalu aku pikirkan sebelum tidur sampai bangun tidur. Ini aku, seseorang yang punya banyak kekurangan, tapi sangat nekat untuk mencintaimu. Aku nggak pernah mengklaim bahwa aku yang terbaik, tapi aku akan terus berusaha menjadi seperti yang kamu butuhkan.
Kalau kamu butuh tempat cerita, sini cerita ke aku. Kalau kamu memilih memendam semuanya, justru aku merasa gagal untuk menemanimu di masa baik maupun buruk. Jangan pernah merasa sendiri, karena di sini selalu ada aku yang menunggu kehadiranmu. Aku akan selalu nemenin kamu, bahkan ketika kamu ada di titik terendah hidupmu. Aku nggak peduli meskipun sebenarnya aku juga lagi kenapa-kenapa. Aku sayang dan cinta banget sama kamu. Aku merasa nyaman setiap kali bersama kamu.
Maaf kalau aku sering overthinking. Aku overthinking karena aku sayang kamu. Kalau aku nggak sayang, aku nggak akan peduli, apalagi sampai segalau ini. Dan kalau ada masalah, ayo kita selesaikan masalahnya, bukan hubungan kita.
Maaf Aku Melepaskanmu
Maaf ya aku lepasin kamu. Tapi alasan aku pergi bukan karena kamu jahat atau nggak baik—justru kamu itu baik banget. Kalau ditanya, masih sayang? Aku jawab: masih. Bahkan sangat sayang. Aku terus meyakinkan diri bahwa mungkin suatu hari nanti kita bisa balik lagi. Tapi sekarang aku benar-benar paham maksud dari "people come and go."
Aku juga sadar, akar dari permasalahan kita adalah aku. Aku yang terlalu mencintaimu. Aku yang mengajarimu, tapi lupa caranya memahami dirimu. Terima kasih karena kamu sudah mewarnai kehidupanku. Aku nggak pernah menyesal bisa sesayang dan secinta ini ke kamu, walau akhirnya kita nggak bisa bareng-bareng lagi.
Terima kasih dan maaf atas semua rasa ini. Terima kasih karena kamu telah menjadi bagian dari proses pendewasaanku. Maaf karena aku mencintaimu segila itu. Perpisahan ini nggak membuat aku mati rasa, tapi membuatku sulit untuk percaya lagi pada cinta dari seorang wanita lain. Terima kasih sudah memahami, mendengar keluh kesahku, dan menjadi tempat cerita yang tak semua orang tahu.
Maaf karena aku egois dan terlalu berharap kita bisa terus bersama. Nggak apa-apa kalau saat ini aku masih terjebak dengan momen-momen kita dulu. Pesanku satu: hiduplah dengan akhlak yang mulia dan tetap jadi perempuan yang sholehah. Kalau suatu saat kita bertemu kembali, percayalah aku sudah melalui banyak hal hanya untuk belajar melupakanmu. Tapi tidak denganmu, maka tidak juga dengan yang lain. Selamat menjalani perjalanan panjangmu. Hati-hati, see you.
Masih Belum Siap Kehilangan
Aku sudah berani bilang ini ke kamu: aku sangat sayang sama kamu. Kamu tahu aku pura-pura ikhlas padahal aku masih pengen banget bareng kamu terus? Kamu pengen tahu rasanya terlihat baik-baik saja tanpa kamu? Aku nggak sekuat itu. Kamu kira aku bercanda? Aku nangis sampai nggak nafsu makan setiap kali kepikiran kamu. Nggak semangat ngapa-ngapain.
Tapi sekarang aku mulai belajar menerima semuanya—kenyataan bahwa "kita" itu sekarang udah nggak ada. Terima kasih sudah memberikan kenangan yang berarti. Meskipun hanya sebentar, kamu pernah jadi bagian paling bahagia dalam hidupku.
Aku nggak pernah menyesal pernah dekat sama kamu. Walaupun akhirnya kita nggak bisa bersama, kamu harus tahu aku masih sangat sayang sama kamu—lebih dari yang kamu tahu. Kisah kita memang singkat, tapi kamu telah menjadi bagian dari cerita yang melekat. Maaf untuk sikapku yang egois, yang mungkin pernah bikin kamu merasa terbebani. Maaf karena sudah membuang waktumu.
Maaf sudah mencintaimu dan mengharapkanmu kembali, bahkan semesta tahu betapa aku ingin kembali tapi tak bisa berbuat apa-apa. Melepaskan orang yang masih ingin dimiliki itu "another level of pain", dan sekarang aku merasakannya. Tapi nggak apa-apa, kamu berhak memilih yang terbaik untukmu. Maaf ya, aku sebenarnya belum siap kehilangan kamu.
Kasih sayangku sudah habis di kamu, dan aku sudah ikhlas. Kadang, memang ada waktunya kita harus melepaskan sesuatu, walau cinta itu masih ada. Tuhan akan memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Terima kasih untuk segalanya. See you. Aku sayang banget sama kamu. Kalau kamu balik lagi, aku mau banget.
Cinta yang Diam dan Tak Pernah Pergi
Bolehkah aku berbicara, walau hanya lewat kata-kata ini? Aku ingin memberitahu banyak hal. Tentang aku yang selalu mencintaimu diam-diam. Aku menjaga hati untukmu, meski aku bukan siapa-siapamu. Tapi aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu.
Kadang aku berpikir, pasti banyak cowok yang mengincar kamu. Kamu cantik, pintar, baik, dan punya kepribadian yang menarik. Tapi dari semua itu, hanya satu yang paling aku khawatirkan—jangan sampai kamu tidak bisa menjadi dirimu sendiri. Karena cowok itu tidak benar-benar tahu siapa kamu.
Aku mencintaimu dengan tulus. Kamu dekat dengan cowok lain, itu hakmu. Tapi aku khawatir, kalau cowok itu malah menjerumuskan kamu ke jalan yang salah. Apa kamu pernah berpikir bahwa ada satu cowok yang akan tetap mencintaimu, walaupun kamu dekat dengan orang lain? Yang siap mendengarkanmu saat kamu ingin cerita, menjadi sandaranmu saat kamu sedih, dan selalu ada kapan pun kamu butuh.
Aku masih ingat, saat terakhir kali aku mengantar barangmu yang tertinggal. Aku pulang dengan gelisah dan overthinking. Aku takut, apakah itu pertemuan kita yang terakhir. Tapi ketahuilah, tidak ada sedikit pun niatku untuk menjauh.
Aku tahu aku belum pantas untukmu, kamu yang sempurna dibandingkan aku yang biasa saja. Mungkin kalau kita paksakan, entah apa yang akan terjadi. Aku memang bisa punya kepribadian ganda, tapi bukan berarti kamu bisa menggampangkan rasa ini.
Satu triliun maaf untukku yang gagal memahamimu. Tapi mungkin kita pernah merasa punya kesamaan. Aku ingin belajar memahami tiap detik tentang dirimu. Tak masalah jika kamu belum bisa memahami aku, asalkan kamu bisa menerima dan menghargai aku. Perlahan, aku akan pastikan kamu bisa memahamiku juga.
Saat ini memang menyakitkan untuk pergi dan mengambil jarak. Tapi mungkin ini jalan terbaik, daripada aku menyakitimu esok hari. Aku ingin memperbaiki diri, agar suatu saat aku pantas untukmu. Ingatlah, aku akan selalu menantikan pertemuan kita di masa depan. Kenangan bersamamu akan selalu terukir di hatiku.
ズルファズライカ
©2023