Siapa?

Basement? Hanya sebuah tempat menyimpan barang barang yang enggan dibuang dan tak lagi terpakai, atau tak hanya barang barang? 

Basement itu tidak memiliki jam. Waktu terasa berhenti, bukan karena diam, tetapi karena tak ada alasan untuk bergerak. Lampu di langit-langit basement itu berkedip malas, seakan menimbang apakah keberadaannya masih diperlukan.

Tepat seperti yang kalian tanyakan, akhirnya. Korban pertama terbangun dengan napas yang patah-patah, seolah paru-parunya baru belajar bekerja kembali. Kepalanya berdenyut-bukan sakit, melainkan bingung, seperti pikiran yang dipaksa kembali ke tubuh yang sudah lama ditinggalkan.

Udara lembap menempel di kulitnya seperti tangan orang asing. Bau besi-entah dari karat atau darah lama-menggantung rendah, membuat napas terasa berat.  Dan sesuatu yang samar-bau manusia yang terlalu lama takut.

Di hadapannya, dalam jarak beberapa langkah, ada seseorang lain. Korban kedua.

la duduk bersandar pada dinding beton, lutut tertekuk, kepala sedikit menunduk. Matanya terbuka, tetapi kosong, seperti jendela rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Tidak ada panik. Tidak ada permintaan tolong. Bahkan tidak ada harapan..

Dan saat itulah ia mendengar bunyi pertama dari atas: Dentum berdegup Derap berharap

Langkah kaki seseorang lainya, menorehkan suara yang tenang seolah sudah saatnya mengintip apa yang terjadi... 

Udara berubah. Diam yang tadi terasa kosong, kini terasa menunggu.

Korban pertama menegang. Bahunya naik perlahan, menggigil takut, bukan karena ia tahu apa yang akan datang, tetapi karena ada hal ganjil yang terus mengganjal 

Tangga basement itu sempit. Terbuat dari logam, dengan celah-celah yang memungkinkan cahaya jatuh seperti potongan-potongan pisau. Satu per satu, bayangan menuruni anak tangga memanjang, lalu memendek, lalu menghilang. Lalu sosok itu muncul. Seorang pria.

Tubuhnya biasa saja. Tidak besar, tidak kecil. Tidak ada yang heroik, tidak ada yang mengerikan dan justru karena itu, ia terasa salah. Wajahnya  mengenakan kacamta, ekspresi nya tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan pikirannya sendiri.

Seketika... Pintu yang ada di belakangnya tertutup

Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih kecil.

Pandangan pria itu menyapu basement sebentar saja. Ia melirik korban pertama sekilas, seolah memastikan keberadaannya, lalu tiba-tiba berhenti. Tatapannya tertambat pada korban kedua. Lebih lama dari yang seharusnya.

Korban pertama memperhatikannya dari sudut mata. Ia ingin berteriak, Ia ingin bertanya, tapi suaranya jatuh ke lantai dan mati di sana dan  tenggorokannya mengeras ketika ia menyadari satu hal:

Pia itu tersenyum. Bukan senyum puas. Bukan senyum sadis. Melainkan senyum kecil, seperti seseorang yang akhirnya menemukan barang yang lama ia cari

“Sudah bangun,” kata pria itu.

Suaranya datar. Tidak diarahkan pada siapa pun secara jelas. Ia melangkah mendekat, langkahnya mantap. Korban pertama merasakan jantungnya menghantam dada, tetapi yang membuatnya paling takut bukan ancaman langsung melainkan kenyataan bahwa ia tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.

Pria itu berhenti tepat di depan korban kedua.

Berlutut. Dan berbicara lagi, lebih pelan kali ini, hampir seperti bisikan yang hanya pantas didengar oleh satu orang. “Kamu lama sekali diam.” Korban kedua tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengangkat kepala perlahan. Matanya akhirnya bergerak, menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang tidak marah, tidak takut melainkan lelah, seperti seseorang yang sudah kehabisan alasan untuk bersembunyi.

Korban pertama melihat adegan itu dengan kebingungan yang semakin dalam. Ada sesuatu yang tidak selaras, sesuatu yang tidak bisa ia rumuskan, tetapi terasa nyata. Seolah ia sedang menyaksikan sebuah percakapan yang tidak membutuhkan kehadirannya.

Pria itu tidak langsung menyentuhnya. Ia menatap korban kedua, seolah sedang menimbang sesuatu. Jari-jarinya bergerak pelan, perlahan namun pasti, ritme yang teratur, terlalu teratur untuk sebuah ruang penyiksaan.

Korban pertama menahan napas. Ia menunggu teriakan. Ia menunggu darah. Namun yang datang justru keheningan yang lebih kejam.

“Aku kira,” kata pria itu akhirnya, “kalau aku membiarkanmu di sini cukup lama, kamu akan berhenti bicara.”

Ia menghela napas, lalu berdiri. Tangannya meraih sesuatu di balik jaket, bukan senjata yang jelas, bukan pula alat yang mudah dikenali. Benda itu tidak diperlihatkan sepenuhnya, hanya bayangannya yang jatuh ke lantai beton.

Korban pertama memalingkan wajah. Tubuhnya gemetar, bukan karena apa yang ia lihat, melainkan karena apa yang ia dengar.

Korban kedua mengerang pelan. Bukan teriakan, lebih seperti napas yang terpotong oleh kenangan.

“Kamu masih melakukan ini,” katanya lirih, “

Pria itu berhenti. “Apa maksudmu?” tanyanya cepat.

“Kamu selalu berpikir kalau rasa sakit bisa membungkamku,” lanjutnya.

“Padahal kamu tahu… itu tidak pernah berhasil.”

Korban pertama mendongak. Ada yang salah dengan cara korban kedua berbicara. Nada suaranya bukan memohon. Bukan melawan.

Melainkan mengingatkan.

“Kamu tidak tahu apa-apa,” bentak pria itu.

Tangannya bergetar bukan karena marah, tetapi karena mulai ragu.

“Oh, aku tahu,” sahut korban kedua. “Aku tahu sejak kamu mulai memanggil dirimu ‘rasional’.”

Pria itu mundur selangkah.

“Aku melakukan ini supaya semuanya terkendali,” katanya, suaranya meninggi.

“Aku yang menjaga agar tidak ada yang terluka!”

Korban kedua tersenyum tipis. Senyum yang sama lelahnya seperti sejak awal. Walau darah terus mewarnai beton abu yang merambat merah saga. Sayatan-sayatan yang mengoyak serambi daging dan robekan-robekan yang menganga lapar

“Dan siapa yang kamu lukai setiap kali itu gagal?”

Kalimat itu jatuh berat. Bukan seperti tuduhan lebih seperti vonis yang sudah lama tertunda.

Korban pertama menatap mereka bergantian.

Kepalanya berdenyut. Ia tidak mengerti isi percakapan itu, tetapi tubuhnya merespons seolah ada kebenaran yang terlalu dekat untuk disentuh.

Pria itu menutup telinganya dengan kedua tangan.

“Diam,” katanya. “Diam! Aku tidak butuh kamu untuk menjelaskan diriku sendiri!”

Pria itu terhuyung mundur, seolah ruang di sekitarnya tiba-tiba menyempit. Napasnya memburu, tidak teratur, seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia terjebak di dalam pikirannya sendiri.

“Berhenti,” katanya, entah kepada siapa.

Korban kedua menatapnya tanpa bergerak. Tatapan itu tidak mengejek. Tidak menang. Hanya menunggu.

Korban pertama melihat pria itu mondar-mandir, tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. Ia berbicara cepat, kalimat-kalimat terpotong, saling bertabrakan, kehilangan arah sebelum sempat selesai.

“Aku sudah mengubur semuanya,” katanya.

Dari atas, tiba-tiba terdengar suara. Bukan langkah. Bukan jeritan. Melainkan ketukan

Wajah pria itu membeku. “Tidak,” bisiknya. “Belum. Belum sekarang.”

Ia menoleh ke arah tangga, lalu kembali menatap korban kedua. Wajahnya berubah, bukan lagi marah, melainkan takut, seperti seorang anak yang tertangkap basah 

Ia berlari naik beberapa anak tangga, lalu berhenti.

Ragu. Suara di atas semakin jelas. Langkah. Suara orang lain. Terlalu teratur untuk kebetulan.

Pria itu turun kembali. Ia berlutut di depan korban kedua, jarak mereka kini terlalu dekat. Nafasnya panas, matanya merah, suaranya pecah. 

“Kamu siapa?” tanyanya. “Kamu ini siapa sebenarnya?”

Korban kedua menghela napas panjang. Seolah pertanyaan itu sudah lama ia tunggu. “Aku yang kamu sisakan,” katanya pelan. “Aku yang kamu kurung setiap kali kamu ingin merasa ‘baik’, menurutmu.”

Korban pertama menutup mata. Ia tidak tahan lagi, atas apa yang telah terjadi bukan pada kekerasan nya, tetapi pada seberapa absurd percakapan itu. Kata-kata mereka tidak terdengar seperti percakapan antara dua orang. Lebih seperti seseorang yang berdebat dengan cermin.

“Kamu selalu bilang aku masalahnya,” lanjut korban kedua. “Padahal tanpa aku, kamu bahkan tidak tahu siapa dirimu sesungguhnya.”

“Diam,” katanya. “kalau begitu” “Kalau aku mengakhiri kamu… semuanya akan tenang.”

Tangannya meraih sesuatu. Gerakannya cepat bukan mengarah keluar, melainkan ke dirinya sendiri.

Pria itu terhuyung, terduduk keras. Napasnya tersengal, terputus-putus—bukan seperti seseorang yang sekarat, melainkan seperti seseorang yang kehabisan peran.

Korban kedua memandangnya sinis“Ini bukan cara berdamai,” katanya lirih. “Padahal ini hanya caramu.”

Pria itu tersenyum pahit. Tubuhnya melemah, seperti seseorang yang akhirnya berhenti melawan 

Korban pertama berteriak. Teriakan itu memantul di dinding basement, pecah, lalu kembali sebagai gema yang tak utuh. Tidak ada yang jelas, tidak urutan kejadian yang bisa dipegang. Hanya kacau

Dari atas, suara langkah berlarian. Suara keras. Benturan. Pintu basement didobrak.

Cahaya menyerbu ruangan, memaksa mata yang sudah terlalu lama gelap untuk menutup diri. Suara-suara asing saling bertabrakan—perintah, teriakan, sesuatu tentang “aman”, sesuatu tentang “hidup”.

Korban pertama terisak, tubuhnya gemetar tanpa henti. Ia tidak tahu apa yang baru saja berakhir. Ia hanya tahu bahwa sesuatu telah selesai, dan sesuatu yang lain baru saja dimulai.

Ruangan itu terlalu terang. Lampu neon menggantung rendah, memantulkan cahaya putih ke meja logam yang dingin. Tidak ada jendela. Tidak ada jam. Hanya kursi, meja, dan suara pendingin ruangan yang berdengung tanpa empati.

Pria itu duduk di satu sisi meja. Tangannya dibalut perban kasar. Wajahnya pucat, tetapi tenang,

Di seberangnya, seorang polisi membuka map cokelat. Lembar-lembar kertas disusun rapi, seolah kekacauan beberapa jam lalu bisa diringkas menjadi laporan.

“Mas,” kata polisi itu, nadanya datar namun sopan, “kami perlu kesaksian Anda. Tentang penculikan dan kejadian di basement.”

Pria itu mengangguk pelan. Ia menunduk sejenak sebelum berbicara, seperti sedang memastikan urutan cerita. Ketika suaranya keluar, nadanya stabil, tidak bergetar, tidak tergesa.

“Ada dua orang,” katanya. “Saya dan… satu orang lainnya.” Polisi itu mencatat.

“Pelaku,” lanjut polisi, “menurut pemeriksaan awal, memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Dugaan kuat mengarah pada kepribadian ganda.”

Pria itu mengerjap. “Dia sering berbicara sendiri,” lanjut polisi, seolah membaca dari laporan yang sudah dihafal. “Dan saksi—Anda—mengalami disorientasi akibat trauma. Itu wajar.”

Pria itu mengangguk lagi. Kali ini lebih cepat.

“Yang Anda lihat,” kata polisi itu, “bisa jadi tidak sepenuhnya seperti yang terjadi.”

Kalimat itu melayang sebentar di udara, lalu jatuh dan mati begitu saja.

“Pelaku ditemukan tewas” lanjut polisi. Ia menutup map.

“Kasus ini akan kami tangani sebagai tindak kriminal dengan latar gangguan mental.”

Polisi berdiri. “Sementara itu, Anda aman sekarang.” Pintu dibuka. Langkah kaki menjauh.

Ruangan kembali sunyi.

Pria itu duduk sendiri. Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan meja, buram, Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, lalu menghilang sebelum sempat menjadi ekspresi utuh. Ia menghela napas panjang. “Akhirnya,” gumamnya.

Ia berdiri, melangkah ke sudut ruangan. Gerakannya ringan, hampir lega. Seolah beban besar telah dilepaskan, bukan dari tubuhnya, melainkan dari dalam kepalanya.

Di balik pintu, dua polisi berbicara pelan. “Dia korban,” kata salah satunya. “Beruntung masih hidup.” Polisi yang lain mengangguk. “Dan pelakunya?”, “Mati di tempat.”

Pria itu mendengar semuanya. Ia tersenyum lagi, kali ini lebih jelas. Di saku bajunya ada sepasang kacamata, bingkainya retak, lensanya buram oleh debu, Ia meraihnya perlahan. Mengelap lensa dengan ujung baju, lalu memakainya kembali. 

Dunia menajam. Garis-garis yang tadi kabur kini lurus dan pasti Segalanya kembali jelas. Bukan karena respon cahaya melainkan karena sudut pandang. 

Untuk pertama kalinya, ia tak lagi perlu berpura pura menjadi siapa pun; sebab di balik runtuhnya segala peran, yang tersisa hanyalah dirinya sendiri, utuh tak terbantahkan

 "Tak ada lagi siapa pun selain diriku sendiri."


Postingan populer dari blog ini

Revolusi Cinta

Sesembahan

Album Manifesto