Biografi Sang Dalang

π™Žπ™€π™π™„π˜ΌP π™…π˜Όπ™‡π˜Όπ™‰ 𝙐𝙉𝙏𝙐𝙆 π™ˆπ™€π™‰π™‚π™ƒπ™„π™‰π˜Ώπ˜Όπ™π™„ π™π˜Όπ™†π˜Ώπ™„π™ π˜Όπ˜Ώπ˜Όπ™‡π˜Όπ™ƒ π™…π˜Όπ™‡π˜Όπ™‰ π™ˆπ™€π™‰π™π™…π™ π™π˜Όπ™†π˜Ώπ™„π™

.

sebenarnya beliau nggak terlalu suka dipanggil "Anda" tapi kalau Antum apa Sampeyan atau dipanggil Kamu, lebih senang. Karena "Anda" bagi beliau itu nggak ada sentuhan, kayak "Anda" itu hanya cocok panggilan buat seorang mantan yang putusnya nggak enak. Beliau lahir pada 1962-08-31 di Jember namun tumbuh besar nya di kota santri yang sebenarnya "Situbondo". Tumbuh dalam lingkungan seni yang terpapar dengan berbagai ekspresi seni tradisional Jawa sejak kecil. Ada pepatah Jawa namanya Tunggak semi, jadi pohon sebagai pondasi dasar atas kesadaran spritualitas yang menjadi nilai dasar dalam menjalani jalan cerita kehidupan. Tunggak semi itu dipakai untuk, anak ini boleh memakai nama bapaknya kalau meneruskan profesinya. Jadi sebenarnya nama beliau enggak ada "Tejo" nya dan itu nama warisan dari bapak beliau yang semula nya AGUS HADI SUJIWO. Beliau nggak ingin jadi Dalang seperti bapak beliau, walaupun saat itu beliau patuh jadi Koordinator Dalang untuk pentas wayang bapak beliau. Saat itu beliau nggak suka dan malu pada teman-temannya yang bisa bermain gitar, sementara beliau sering menciptakan sendiri lakon-lakon wayang kulit sehingga beliau juga bercita-cita menjadi anak Band. "Ning nduwur papan, ana wayang kanggo kersaning anak tur ngguyu dadi urip karo dhalang lan gunungan," begitu ia sering mengenang masa kecilnya yang penuh dengan pementasan wayang.

Semasa Remaja nya tak banyak kutipan tentang hal itu, selain aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler seni budaya. Hingga pada semasa mahasiswa hasrat berseni semakin bergejolak, Ia mulai menjadi penyiar radio di kampus, bermain teater, dan mendirikan ludruk ITB bersama budayawan Nirwan Dewanto. suatu malam Ketika beliau mengerjakan tugas Teknik Sipil ada radio di Bandung yang menyiarkan siaran jawa, itu nyaring suara dalang nya, melakonkan wayang dan mulai dari situ beliau merasakan wayang terutama musik gamelan itu indah yang sebelumnya beliau anggap musik gamelan itu mempermalukan beliau. Seterusnya beliau aktif di kegiatan gamelan di kampus sampai menjadi kepala bidang Persatuan Seni Tari Karawitan Jawa (sekarang UKM).  Akhirnya beliau nggak selesai kuliah dan teman-teman beliau kebanyakan seniman di Bandung, terus beliau jadi wartawan di Kompas khusus liputan kebudayaan. Namun walau tak lulus kuliah sebab beliau belajar sebentar sudah langsung mahir sebab sudah ada gen dari bapak beliau, jadi beliau memilih tidak menyelesaikan kuliah. Selang beberapa tahun sesambi bekerja beliau juga sempat lanjut kuliah lagi di IKJ. Namun di celah celah itu beliau sempat menajdi seorang atheis yaitu seseorang yang lebih sunyi daripada tak percaya manusia, bahkan Tuhan pun beliau tak percaya. Sebab beliau tersesat saat menelusuri buku buku filsafat, hingga pada akhirnya tahun 1994 ibunda nya meninggal. Dari Jakarta beliau pulang kampung menyaksikan pemakaman hingga beliau di tunjuk untuk mengumandangkan adzan untuk jasad ibu beliau. Kala itu, beliau teringat soal filsafat dan membandingkannya dengan ajaran agama. "Secanggih-canggihnya filsafat, enggak ada satu pun yang ngajarin saya kalau ibuku meninggal gimana cara nguburnya," Tambah lagi Menurut beliau, filsafat hanya mengajarkan cara berpikir, sedangkan agama menggabungkan akal dan praktik menjalani hidup.

Setelah bergelut di dunia kuliah dan magang beliau mantap memutuskan berganti arah sebagai Seniman, sebab semasa ia hidup banyak cipratan seni yang ia rasakan dan selalu mendampingi kehadiran nya. Banyak seni y ang ia jejaki salah satunya Dalang, awal profesinya di dunia wayang adalah pentas wayang Semar Mesem pada tahun 1994. Berlanjut pas siaran media beliau mampu menyelesaikan 13 episode wayang kulit Ramayana di TPI di tahun 1996, yang kemudian disusul dengan wayang acappella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur. Berlanjut pada tahun 1999 beliau memprakarsai berdirinya Jaringan Dalang, dengan tujuan untuk memberi nafas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Bahkan pada tahun 2004, ia mendalang keliling Yunani. Dalam aksinya sebagai dalang, Beliau suka melanggar berbagai pakem pewayangan, termasuk Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa pun ia buat tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya, sekiranya itu ciri khas diri nya menurut sudut pandang saya. 

Untuk bidang teater, kiprah beliau terlihat dari keaktifannya mengajar teater di EKI sejak 1997, pada 1998 juga memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia hingga pada 2017 ia mendirikan theater "Theater Tanah Air" untuk mempermudah menggelar pentas seni. Belum berhenti sampai di situ, beliau juga menjajal akting dan juga menjadi sutradara di beberapa film Indonesia dengan gaya unik nya. 

Dari panggung teater hingga panggung kehidupan, Sujiwo Tejo menari dengan irama yang khas, mengalunkan lagu-lagu kebenaran dan cinta. "Lagu iki gendhing kesejatin, nyuwun ngapura titipan, lelampahaken garwa, tumuju peksi," begitu kata-katanya yang merangkai makna seperti untaian mutiara.

Sehingga dalam bidang musik, beliau dikenal sebagai penyanyi di tahun 1998 berkat lagu-lagunya di album Pada Suatu Ketika. Video klip dari lagu Pada Suatu Ketika pun mampu meraih penghargaan sebagai video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, musikal beliau ini punya khas yang tak bisa di samai oleh Seniman musik lain nya. Tiap bait dan komposisi lagu nya punya makna yang mendalam. 

Di luar panggung seni beliau dikenal sebagai seorang aktivis dan intelektual yang vokal terhadap isu-isu sosial dan politik. Dalam setiap pidatonya, dia selalu menegaskan pentingnya keadilan dan kesetaraan bagi semua orang. "Ing ngarsaning gusti Allah, urip iku karya karya." Filosofi sederhana namun mendalam yang  menghiasi percakapannya. Meskipun berada di dunia seni dan politik, Sujiwo Tejo tetap menjaga kesederhanaan nya. "Ojo bali, manungso iso rungokno, ana budhal sing kudu kono, aku ora angel, sing angel sing pancen angel." Dengan sikap rendah hati menurut pandangan tasawuf, beliau terus menginspirasi banyak orang untuk tetap berpegang pada nilai-nilai pendirian masing masing

Baginya, hidup adalah sebuah panggung yang menampilkan sandiwara yang tak terduga. "Jaman mung enggon, ajining diri marang jaman". Dalam kata-katanya yang sederhana namun dalam, Sujiwo Tejo mengajak kita merenung tentang esensi kehidupan dan perjalanan jiwa yang tak pernah berhenti bertanya. Dalam setiap karya seninya, Sujiwo Tejo tak hanya menciptakan karya yang indah secara visual atau auditif, tapi juga menyisipkan serpihan-serpihan filsafat kehidupan yang dalam. "Wayang ora luwih saka jaman, nganti meniko kebendhulan," katanya sambil tersenyum bijaksana, mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan tak lekang oleh waktu. Aktivitasnya bukan sekadar pencarian popularitas atau materi, tapi sebuah perjalanan batin yang mengantarkannya pada pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan jagat raya. "Bisa jadi wong akeh, tapi durung tentrem, bisa jadi durung akeh, tapi wis tentrem," begitu ia merenung, mengajak kita memahami bahwa kebahagiaan sejati tak terletak pada kepemilikan materi, tapi pada kedamaian batin. Seorang Seniman yang tak hanya terpaku pada satu bidang seni saja. "Seni ora kathah perlu dadi trah sing bebarengan karo sawijining rupa seni. Seni kudu kaya pohon wiji, guyu kang katon ngandhut." Dalam setiap karya baik itu pertunjukan teater, penulis buku, aktor film, atau karya musik, karya lukis dan seni men-dalang dia selalu menekankan pentingnya menyatu antara keindahan dan makna yang mendalam. Begitu lah jejak kaki dari seorang Seniman yang tak pernah berhenti berkarya sebelum mati, karena karyanya adalah kehidupannya, dan hidupnya adalah karyanya.

sebagai seorang LOGOPHILE semua aspek diatas yang menjadi kan saya terpana dan tertarik pada sosok Sujiwo Tedjo, sejak pertama saya mendengar bait bait Tali Jiwo nya yang mendekap tenang mendalam. Selain itu hidup tak lepas dari budaya dan agama, sosok Sujiwo tejo sangat menginspirasi hal tersebut pada saya, apalagi tak banyak remaja yang menjadikan Sujiwo tejo sebagai tokoh favorit nya dan itu sangat berpegang erat pada salah satu prinsip saya yang berbunyi "Jadilah orang yang berbeda diantara kerumunan orang yang saling menyamai" Salah tiga semboyan hidup saya saat ini.

NB: Catatan Biografi ini bukan 100 persen termuat sebab itu kepemilikan dari tokoh itu sendiri dan ini hanya rangkuman dari beberapa artikel, podcast, dan pengetahuan saya sendiri

Sumber:

https://www.merdeka.com/agus-hadi-sudjiwo

(Artikel Berita) 

https://youtu.be/70B6PIWvATo?si=oJ1nZJnRmGmn4-qI

(Rhoma Irama) 

https://youtu.be/LrxP8ofXnLE?si=bcOp1hJ8NNfaDREW

(Habib Ja'far) 

Postingan populer dari blog ini

Revolusi Cinta

Sesembahan

Album Manifesto