Menyembah #1
BAB I: MENDEKATI TUHAN
Malam di desa ini terasa lebih berat dari malam-malam lain yang pernah kulalui. Bulan seperti enggan menampakkan diri, dan angin membawa bau tanah basah yang bercampur sesuatu, entah? seharusnya sisa doa, sekalipun sisa niat yang tak pernah selesai. Aku datang ke desa ini bukan karena rencana, lebih tepatnya lelah pasrah. Setelah pintu besi itu menutup di belakangku, aku hanya berjalan sampai langkahku hanya sanggup berhenti di desa ini, sendiri.
Aku tinggal di sini karena tak ada yang bertanya. Rumah kecil di ujung desa cukup murah, cukup sepi. Tak ada yang mengenalku, dan aku tak perlu mengenal siapa pun. Aku hanya ingin hari-hari yang berjalan tanpa perlu menjelaskan masa lalu. Malam-malamku kuhabiskan dengan duduk diam, menunggu kantuk, atau sekadar menatap langit yang jarang benar-benar gelap.
Masjid desa berdiri tak jauh dari rumahku. Aku sering melewatinya tanpa tujuan. Lampunya temaram, pintunya jarang tertutup rapat. Suatu malam, kakiku berhenti di sana, seperti lupa bagaimana caranya melangkah pergi. Aku masuk tanpa niat apa pun-hanya duduk, mendengarkan suara lantai kayu yang berderit pelan.
Di sanalah aku pertama kali bertemu dia.
Seorang ustadz, duduk bersandar pada tiang masjid, kitab terbuka di pangkuannya. la tak menoleh cepat-cepat, tak juga pura-pura sibuk. Ketika akhirnya menyapaku, suaranya rendah, seperti orang yang terbiasa berbicara tanpa harus didengar banyak orang. Tak ada pertanyaan. Tak ada penilaian. Hanya satu-dua kalimat ringan, seperti obrolan orang yang sama-sama menunggu waktu berlalu.
Sejak malam itu, aku mulai sering datang. Kadang hanya duduk. Kadang ikut berdiri ketika orang-orang lain berdiri. Aku tak tahu sejak kapan tubuhku mulai hafal gerakan-gerakan itu. la tak pernah menyuruh. Tapi setiap kali aku ragu, selalu ada ruang kosong di sampingnya-cukup untuk satu orang yang belum tahu harus duduk di mana.
Kata-katanya merangkul. Lebih sering seperti potongan, jatuh begitu saja, lalu dibiarkan. Pernah suatu malam ia berkata, pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri, bahwa "Tuhan tak pernah benar-benar pergi meninggalkan dari siapa pun. Dan mungkin kitalah yang memilih meninggalkan Tuhan". Kalimat itu tak menjawab apa-apa, tapi entah mengapa menetap lama di kepalaku.
Malam lain, desa menjadi gaduh. Teriakan, langkah kaki, suara napas orang-orang yang terburu. Dari kejauhan kulihat bayang-bayang berlarian. Seorang pria memisahkan diri dari kerumunan dan masuk ke masjid. Tubuhnya basah oleh keringat, bajunya kusut, tapi langkahnya mantap, seolah tahu ke mana harus menuju.
Aku mengikutinya.
la duduk di sudut, menarik napas panjang, lalu berdiri menghadap kiblat. Tak tergesa. Tak juga gelisah. Seolah malam ini memang miliknya.
"Kamu yang tadi dikejar itu?" tanyaku akhirnya.
la menoleh, mengangguk. "Iya."
"Kenapa ke sini?"
la menatap ke depan, bukan padaku. "Sudah Waktunya"
Aku tak langsung paham maksudnya. Baru ketika aku sadar bahwa ia tadi beribadah sholat, aku mengerti-atau setidaknya mengira aku mengerti. Setelah selesai, kami bicara pelan, di antara sisa-sisa kelam malam yang belum reda.
"Kalau rajin begini," kataku, "kenapa masih mengambil yang bukan hakmu?"
la tersenyum, bukan senyum orang yang merasa benar, lebih seperti orang yang sudah terlalu sering disalahkan.
"Kalau saya berhenti sholat karena hidup saya berantakan," katanya, "terus saya sholatnya buat apa sejak awal?"
Pria itu tersenyum pahit, “Kalau merasa sholatnya percuma, terus jadi nggak sholat gitu? Saya sholat karena menuruti perintah Allah, bukan karena yang lain-Nya"
Jawabannya singkat, tapi membuatku merasa telanjang. Aku, yang belakangan rajin datang ke masjid, tiba-tiba tak tahu apa yang sebenarnya kucari. Ada jeda panjang di antara kami, diisi suara jangkrik dan napas yang mulai tenang.
"Kau tahu kenapa aku mengambil itu?" katanya, masih duduk di lantai masjid, telapak tangannya bertumpu pada lutut.
Aku menggeleng.
"Bukan karena aku ingin," lanjutnya. "Kalau hidup memberiku pilihan yang lain, mungkin tanganku tak perlu belajar jadi licin."
la berhenti sejenak, menelan ludah. "Di rumah ada perut yang lebih dulu lapar sebelum akal sempat berpikir panjang."
"Jadi kau membenarkannya?" tanyaku.
la menghela napas. "Aku tidak bilang benar. Aku bilang mendesak."
Lalu matanya menatapku, tajam tapi lelah. "Orang seperti kami punya hak untuk hidup, tapi sering tak diberi jalan untuk mendapatkannya."
"Apa pun alasannya, tetap mencuri," kataku pelan.
la mengangguk. "Iya. Prosesnya salah." Kemudian ia tersenyum tipis. "Tapi sebabnya bukan kejahatan. Dan akibatnya... biarlah Tuhan yang menimbang."
la berdiri, merapikan bajunya. "Kalau kelaparan itu dosa, mungkin aku sudah lama berdosa sebelum mencuri."
Aku tak menjawab. Kata-katanya tertinggal di udara, seperti doa yang tak tahu harus diaminkan atau ditolak.
Malam itu aku pulang dengan kepala penuh. Gerakan-gerakan yang selama ini kulakukan terasa asing kembali, seperti pakaian yang ternyata hanya kupinjam.
Keesokan subuh, aku datang lebih awal. Ustadz itu sudah ada, seperti biasa. Aku duduk di dekatnya dan mengajukan pertanyaan yang bahkan tak kupahami sepenuhnya. “Ustadz,” kataku akhirnya, “kalau ibadah dilakukan karena takut dan berharap, apakah itu masih ibadah… atau hanya transaksi?”
Ia menutup kitabnya perlahan. “Manusia memang diberi imbalan agar taat,” jawabnya. “Tanpa itu, kebanyakan akan lalai.”
Aku mengangguk, tapi dadaku tak ikut membenarkan.
“Kalau seseorang sholat bukan karena ingin apa-apa,” lanjutku hati-hati, “tapi karena merasa perlu?”
Ia terdiam sejenak. “Jangan terlalu jauh bertanya,” katanya ringan. “Agama ini sudah cukup jelas.”
Kata "jelas" itu justru membuatku merasa semakin patah yakin
Aku mencoba lagi. “Lalu tentang orang yang berbuat salah karena keadaan, tapi tetap bersujud… apakah Tuhan melihat perbuatannya, atau keadaannya?”
Ia menatapku lebih lama dari sebelumnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu—bukan marah, bukan sabar—lebih seperti menimbang. “Dosa tetap dosa,” ujarnya akhirnya. “Tugas kita bukan memahami, tapi patuh.”
Aku pamit tak lama kemudian. Saat melangkah keluar masjid, aku merasa seperti baru saja keluar dari ruang yang rapi, bersih, dan tertutup rapat tak ada celah untuk bernapas, tak ada ruang untuk ragu.
Setelah percakapan itu, ternyata ragu mulai tinggal di tubuhku, tapi belum berani menyebut dirinya ragu. Ia hanya duduk di sudut dada, seperti kursi kosong yang menunggu diduduki. Jawaban ustadz itu terdengar runtut, bahkan pantas. Namun ada sesuatu yang tak bisa kutangkap, seperti doa yang dilafalkan dengan benar tapi tak pernah benar-benar sampai.
Aku ingat persis lekuk wajah lelaku itu, Jika keraguan ini lahir dari kata-katanya, mungkin hanya ia yang bisa menjelaskan apakah aku sedang tersesat, atau justru baru mulai melihat.
Sore hari, aku mencarinya. Bukan dengan maksud besar, hanya mengikuti dugaan. Aku menemukannya di sebuah warung kecil yang hampir menutup pintu. Lampu redup, kursi plastik ditumpuk setengah hati, dan bau minyak goreng bercampur dengan sisa siang yang letih. Tempat yang cukup aman untuk bicara tanpa perlu menjaga suara.
Ia menatapku lebih dulu. Seolah sudah menduga.
“Kau masih membawa pertanyaan semalam,” katanya, sambil mengaduk teh yang sudah dingin.
“Ada yang belum selesai,” jawabku.
Ia tersenyum samar. “Pertanyaan yang belum selesai biasanya bukan karena jawabannya kurang, tapi karena kita belum siap menerimanya.”
Aku duduk. “Kalau ibadah itu perahu,” kataku pelan, “lalu orang-orang di kampung ini, menurutmu, mereka sedang menyeberang atau hanya sibuk mengecat perahunya?”
Ia tertawa kecil, bukan mengejek. “Ada yang sibuk mengecat, sampai lupa airnya sedang surut.”
Ia menatap ke luar warung. “Ada juga terlanjur berenang, meski tahu tak semua ombak ramah.”
Aku diam. Kalimat itu terasa seperti cermin.
“Aku bertanya pada ustadz,” kataku kemudian. “Tentang orang yang berbuat salah karena keadaan, tapi tetap bersujud. Jawabannya… rapi. Tapi entah kenapa, aku merasa seperti...?
Ia mengangguk pelan. “Tak semua pintu ditutup karena kita tak pantas masuk,” katanya.
“Kau mengenalnya?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Aku hanya mengenali bau ruang yang pengap,” jawabnya. “Tempat di mana kebenaran disimpan terlalu rapi, sampai tak boleh disentuh.”
Aku menunduk. Sesuatu mulai mengendap dalam diriku-bukan kesimpulan, hanya keyakinan kecil bahwa keganjilan ini bukan karanganku sendiri.
"Kalau desa ini katanya religius," lanjutku lirih, "kenapa masih ada orang sepertimu?"
la tersenyum getir. "Kalau sebuah ladang subur tapi satu tanaman saja layu, mungkin bukan tanamannya yang salah," katanya. "Mungkin airnya tak pernah sampai ke akar."
Kata-kata itu tidak menuduh siapa pun. Tapi cukup untuk membuatku mengerti: ada yang tidak sejalan di tempat ini. Ada sistem yang tampak saleh, tapi menyisakan orang-orang di sudut lapar.
Saat aku bangkit, senja sudah hampir habis. Desa ini terasa semakin sempit-bukan karena luasnya, tapi karena napas yang dibolehkan di dalamnya.
Di jalan pulang, pikiranku berputar pada satu hal: aku datang ke sini untuk mencari tenang, untuk menyusun ulang hidup setelah penjara mengajarkanku betapa kerasnya dunia. Tapi ketenangan yang kutemukan di sini seperti air bening yang menggenang, tak mengalir, tak menyegarkan.
Percakapan kami berakhir tanpa kesimpulan. Lelaki itu tidak memberiku jawaban, hanya arah. Seperti orang yang menunjuk mata angin, lalu membiarkanmu tersesat sendiri. Tapi justru di situlah sesuatu dalam diriku berhenti berisik. Keraguanku tidak lagi terasa seperti dosa, melainkan seperti tanda peringatan yang bekerja sebagaimana mestinya.
Malam itu aku berjalan pulang dengan langkah lebih pelan dari biasanya. Desa ini tetap sama: jalan tanah yang lembap, lampu-lampu rumah yang temaram, suara doa dari surau kecil di ujung gang. Tidak ada yang berubah. Tapi entah mengapa, aku merasa seperti sedang berdiri di tepi sesuatu yang tak terlihat-jurang atau pintu, aku sendiri tak tahu.
Aku sadar, sejak aku belajar menunduk dan menyebut nama Tuhan, aku justru menjadi lebih waspada. Bukan karena takut, tapi karena ingin jujur. Dan kejujuran itu membuat beberapa hal tampak terlalu rapi. Terlalu tertata. Terlalu siap memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai diucapkan.
Keesokan harinya, sebelum subuh benar-benar habis, aku kembali ke masjid. Bukan untuk shalat. Hanya duduk di serambi, menunggu udara dingin selesai berembus dari tubuhku. Ustadz itu keluar tak lama kemudian. la berhenti ketika melihatku, seolah sudah menduga kehadiranku sejak semalam.
"Kau akan pergi," katanya pelan. Bukan bertanya.
Aku mengangguk. Tak ada penjelasan yang keluar dari mulutku. Rasanya tak perlu.
la duduk di sampingku, menjaga jarak secukupnya. "Desa ini tenang," ucapnya kemudian. "Tidak semua orang cocok dengan ketenangan."
Aku menatap halaman masjid yang mulai basah oleh embun. "Kadang tenang bukan berarti dalam," jawabku, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
la tersenyum tipis. Senyum yang tak retak, tapi juga tak menghangatkan. "Terlalu banyak menggali," katanya, "bisa membuat orang lupa pada permukaan tempat ia berpijak."
Aku mengerti maksudnya. Dan dari caranya menatapku, aku tahu ia juga mengerti ke mana arah pikiranku berjalan. Ada hal-hal yang ingin ia pertahankan tetap utuh, dan aku-dengan pertanyaanku-bukan bagian dari keutuhan itu.
"Setiap tempat punya batas," lanjutnya. "Tidak semua orang perlu melampaui."
Aku berdiri. "Mungkin," kataku, "bukan tempatnya yang berbatas. Tapi cara kita menjaganya."
la tidak menjawab. Hanya mengangguk, seperti orang yang mengizinkan sesuatu pergi bukan karena rela, tapi karena tak ingin terganggu.
Saat aku melangkah menjauh, aku merasa ada kelegaan yang aneh. Bukan karena aku menang, atau karena aku benar. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak keluar dari penjara, aku tidak menekan instingku sendiri. Aku mendengarkannya.
Desa ini telah memberiku pintu masuk. Tapi ketika aku ingin melangkah lebih jauh, aku tahu aku harus mencari ruang lain-bukan untuk lari dari Tuhan, melainkan untuk mencari-Nya tanpa ditentukan batas terlebih dahulu.
Kota itu mungkin lebih bising. Mungkin lebih kejam.
Mungkin lebih jujur dalam kepalsuannya. Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: tinggal di sini dengan kecurigaan yang terus berdenyut hanya akan mengubahku menjadi orang yang pahit dan kepahitan tidak pernah melahirkan apa pun selain kekerasan yang lebih rapi.
Maka aku pergi.
Bukan karena aku telah menemukan jawaban.
Melainkan karena aku menolak berhenti bertanya