Postingan

Yang Jatuh Suka

Aku tak pernah benar-benar paham, kenapa beberapa rasa datang tanpa peringatan. la tak mengetuk pintu, tak memberi aba-aba. Tahu-tahu hadir, menetap, dan membuat segalanya jadi berbeda. Bukan cinta, aku belum tahu sejauh itu. Tapi ada sesuatu yang tumbuh, perlahan, dari cara mataku diam-diam mencari siluetmu di antara keramaian. Dari cara pikiranku mengulang-ulang detik-detik biasa yang menjadi luar biasa hanya karena kamu ada di dalamnya. Di hadapanmu, aku tidak punya banyak kuasa atas diriku sendiri. Kata-kata yang biasanya bisa kususun dengan mudah, mendadak hilang. Daya yang biasanya kupakai untuk menjaga jarak, luruh begitu saja. Bahkan mataku pun tak tahu harus ke mana saat tanpa sengaja bertemu dengan tatapanmu. Ada sesuatu yang membuatku diam, membeku sejenak, seperti sedang menatap sesuatu yang tak seharusnya terlalu lama kulihat. Tapi tetap saja, aku menatap. Aku pernah berpikir bahwa menyukai seseorang itu selalu disertai harapan. Tapi untukmu, entah kenapa... tidak. Aku tid...

Album Manifesto

Sebuah definisi di mana untaian kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa menyusun tangga-tangga nada sehingga menjadi sebuah suara lontaran kata yang merdu, yakni Lagu. Keberadaannya tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia, karena kita tidak bisa terlepas dari nada dan kata yang menyatu menjadi melodi penuntun waktu. Bagi saya, mendengarkan musik bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah pencarian akan eksklusivitas rasa yang personal. Ada kepuasan tersendiri ketika menemukan sebuah identitas musikal yang terasa seperti rahasia pribadi, sebuah ruang yang hanya dihuni oleh saya kepada karya tersebut dan segelintir orang yabg betul betul paham. Namun, ketika sebuah band mulai merambah ke wilayah populer dan menjadi konsumsi massa, bagi saya nilai eksklusif itu perlahan memudar sehingga maknanya tak lagi terasa intim karena telah terbagi dengan terlalu banyak orang. Transisi saya ke musisi lain yang lebih tersegmentasi bukanlah bentuk penghakiman terhadap selera orang lain,...

Takut Berharap

Bagaimana bisa kita takut berharap pada harapan?  Ketakutan itu lahir bukan karena harapan bersifat rapuh, melainkan karena harapan diam-diam berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar kemungkinan, tetapi naik pangkat menjadi ukuran: ukuran benar–salah, pantas–tidak pantas, berhasil–gagal. Di situlah paradoksnya mulai bekerja. Seseorang bisa takut pada harapan yang ia ciptakan sendiri karena harapan itu tidak berhenti sebagai bayangan masa depan. Ia menyusup ke cara kita menilai kenyataan. Ketika harapan masih berada di depan—belum terjadi apa-apa—ia terasa aman. Ia hidup di wilayah “mungkin”. Tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Tapi begitu harapan itu selesai, begitu dunia menjawab dengan “tidak”, harapan itu menuntut pengakuan. Ia menagih: mengapa tidak terjadi? Di titik ini, harapan tidak lagi menghadap masa depan, tetapi berbalik mengadili masa lalu. Yang ditakuti bukan kegagalannya, melainkan makna yang lahir setelah kegagalan itu diresmikan. Karena kegagalan tersebut merus...

Kebaharuan

Seonggok lukisan menghalangi niatku untuk bergegas pergi, menyandungku jatuh tersungkur. Aku terkapar di lantai dingin, pandanganku tersangkut pada kanvas itu, seolah lukisan itu menertawakan kesibukanku yang gegabah. Warna-warnanya bukan sekadar pigmen, ia menekan sesuatu di dalam diriku yang tidak mampu diungkapkan kata-kata, memaksa rasa kagum dan cemas berbaur menjadi satu.  Setiap goresan tampak menuntut penafsiran, dan sekaligus menegaskan ketidakmampuanku untuk melukisnya. Ada sesuatu yang berbisik dalam diamnya, Dan di sanalah aku, terjepit antara keinginan untuk pergi dan rasa terperangkap oleh sesuatu yang begitu indah hingga membuat langkahku tak lagi ringan. Sampai pada satu kesimpulan yang sederhana sekaligus mengganggu: keindahan sering kali tidak lahir dari kepemilikan, melainkan dari ketidakmampuan untuk memiliki. Sesuatu menjadi indah justru karena ia belum disentuh, belum dijalani, belum menjadi bagian dari rutinitas. Keindahan, bagiku, adalah kemungkinan yang bel...

Tersisa kelam

Aku tidak tahu kapan malam ini dimulai. Jam di dinding berhenti bekerja sejak lama, atau mungkin aku yang berhenti mempercayainya. Ruangan ini tidak memiliki nama dan aku mengerti mengapa. Sesuatu yang lahir dari ingatan tidak pernah mau dipanggil. Dindingnya tidak keras. Ia lembap seperti pikiran yang terlalu lama tersimpan. Dari sela-selanya keluar suara-suara yang tidak pernah kuminta: jerit anak kecil, doa yang salah alamat, kalimat-kalimat yang dulu kuanggap benar lalu tiba-tiba terasa memalukan. Aku tidak menutup telinga. Menutup telinga hanya membuat suara itu pindah ke dada. Aku duduk dan menunggu diriku sendiri. Bukan diriku yang dulu, bukan pula yang kuharapkan. Aku menunggu yang sanggup berkata: ya, itu pernah terjadi, dan aku masih di sini. Kadang aku berpikir hidup tidak pernah memberi kita pilihan, hanya tanggung jawab. Kita dipaksa menjawab atas hal-hal yang bahkan tidak kita inginkan. Dari sanalah aku terbaca bukan sebagai berita miring konstitusi tetapi sebagai seorang...

Surat Menjawab

Surat untuk Menjawab Kekhawatiranmu Surat ini kutulis untuk menjawab beberapa hal yang mungkin sedang berputar di kepalamu. Jika kamu sudah tiba di halaman ini, berarti kamu memang ingin tahu—entah karena peduli, penasaran, atau apa pun motif yang hanya kamu sendiri yang tahu. Yang jelas, kamu sudah cukup jauh melangkah memahami siapa aku. Maka, biarkan aku menjawab dengan seterang yang bisa aku lakukan. Mungkin kamu penasaran, apakah hatiku sedang kosong? Dan dari dua surat sebelumnya, kamu mungkin menebak-nebak beberapa hal. Ya, benar—mereka berdua pernah hadir dalam hidupku. Sekarang, mungkin hanya tinggal jejak kenangannya dan aku selalu mendoakan mereka baik, karena dulu hatiku memang memilih mereka. Hanya saja, kenyataan tidak berpihak, dan aku harus menerima itu. Jadi, untuk saat ini hatiku masih kosong. Bukan karena tidak ada yang bisa mengisi, tapi lebih karena aku belum ingin. Bukan berarti kamu suatu saat tidak punya tempat—tapi aku sedang berdamai dengan ketidakpastian. Jik...

Menyembah #3

BAB III: MENUHANKAN TUHAN Aku berjalan menuju kota itu dengan kaki yang masih mengingat tanah kampung tadi tanah yang menolak, tanah yang menerima, tanah yang membingungkan. Angin subuh mengusap tengkukku, seperti mencoba menghapus luka yang bahkan tidak bisa kulupakan sekalipun. Di depanku, kota itu mulai menggeliat: suara klakson, asap knalpot, gedung yang seolah menggigit langit. Aku pikir kota lebih beradab. Lebih waras. Lebih manusia. Tapi mungkin, seperti diriku sendiri, kota hanya makhluk lain yang belajar menutupi kebusukan dengan lampu-lampu terang. Aku tiba ketika matahari mulai merangkak naik. Orang-orang bergegas seperti dikejar bayangan nya sendiri. Aku berdiri di trotoar yang retak-retak, membawa tubuh yang masih basah oleh masa lalu. Aku kira perjalananku ke kota ini akan menjadi awal sesuatu yang baru. Tapi ternyata, kota hanya mempercepat kejatuhan halus yang sudah lama mengikutiku. Di sebuah mushola kecil pinggir pasar, aku mencoba sholat subuh, setelah perjalanan pan...